Konstelasi politik Indonesia dewasa ini kian memanas, seiring proses kampanye partai politik sudah mulai dilaksanakan, tepat pada tanggal 12 Juli 2008, hingga 5 April 2009. Tidak berlebihan kalau tahun 2008 adalah awal mula pesta demokrasi bagi semua partai politik di negeri yang sedang sakit ini. Disamping itu, tahun ini bakal menjadi kesempatan sebagian elite politik untuk mencalonkan dirinya menjadi orang nomor satu, tidak untuk nomor dua dan nomor urut berikutnya dalam mengatur roda kepemerintahan berikutnya.
Sejumlah slogan, seperti rakyat bersatulah, ekonomi kerakyatan, mencintai produk dalam negeri, menang kalah tak jadi soal, menjadi alasan nomor wahid, mengapa mereka maju dan ikut bertarung merebut kursi kekuasaan pada putaran pemilihan umum tahun 2009 mendatang. Akan tetapi, sampai saat ini, bursa calon presiden masih dihiasi oleh wajah-wajah politikus generasi lama. Wajah yang sebenarnya tidak lagi meyakinkan untuk membawa perubahan di negeri ini, tetapi begitu mengagumkan ketika melihat mereka tampil, laiknya seorang aktor film ternama, di depan layar televisi, papan iklan di sepanjang jalan kota-desa, bahkan kamar WC pria-wanita sekalipun, dimana senyum politik serta janji-janji manisnya begitu mudah diperjual-belikan.
Fenomena semacam ini menandakan bahwa perilaku politik manusia Indonesia memang sedang gila-gilanya, karena masyarakat dibuat bingung untuk membedakan mana isi dan mana bentuk yang akan diperjuangkan oleh mereka lewat puluhan kendaraan politik, padahal kehadiran puluhan partai saat ini terlihat samar. Sedangkan barang yang samar adalah barang yang tidak boleh untuk dipilih, apalagi dimiliki, sebelum keraguan benar-benar pupus.
Posted by lothek 






.jpg)












