June 30, 2008
Oleh:Ronggolawe el-Kempedy
Murca sudah konsekuensi pemerintah Indonesia yang sok demokratis kepada pendidikan. Sepintas kalimat ini memang sungguh pedas di telan nurani, akan tetapi realita kekinian pendidikan Indonesia memaksa kita untuk menyantap kepedasan itu.
Kemurcaan itu semakin tampak jelas ketika para elite politik kita sibuk memasang kuda-kuda merebut kursi kekuasaan 2009. Atas nama hak angket, dengan matang mereka merencanakan kudeta tak terlihat terhadap rezim SBY-JK.
Sementara itu, di lain pihak, pendidikan yang kian menbumbung harga jualnya semakin menyesakkan dada rakyat jelata, kaum sudra reformasi. Betapa tidak, nominal yang sedemikian tinggi tak urung membuat mereka semakin enggan duduk di bangku pendidikan. Terlebih pagi para calon mahsiswa baru, sebagaimana yang kita lihat saat ini, untuk mendaftar ke sebuah perguruan tinggi negeri saja, mereka dituntut untuk mengeluarkan seluruh isi kantong mereka.
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Pendidikan |
Permalink
Posted by lothek
June 29, 2008
Oleh Abdul Munir Mulkhan
Kekacauan hukum, sistem bernegara dan berbangsa negeri ini bak kahyangan, tempat para dewa, yang sedang dilabrak Petruk, punakawan Arjuna.
Suap-menyuap jaksa yang mulai menyeret beberapa petinggi Kejagung seolah berkelindan dengan etos pencarian energi alternatif yang melibatkan ”teknologi jin” (meminjam istilah seorang ahli energi UGM) setelah rakyat harus menanggung beban kenaikan harga minyak dunia justru di negeri produsen minyak. Di sisi lain, pemerintah seolah tersandera para pihak yang dengan lantang memenuhi ambisi hegemoniknya atas tafsir tunggal kekudusan ilahi. Nilai-nilai terjungkir balik saat orang saleh yang patuh hukum dituduh berlaku jahat karena keyakinannya.
Derita warga negeri para dewa itu menjadi lengkap saat para pejabat menggunakan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri, penegak hukum menjual perkara, keputusan pengadilan tergantung berapa dibayar, dan keamanan dijamin sepanjang bisa membayar centeng. Pabrik penyedia bibit menjual hak bertani kepada petani dan broker surgawi menggunakan para dewa sebagai legitimasi kekerasan atas siapa saja yang berbeda. Mereka yang saleh secara sosial berbasis tafsir minoritas dituduh menodai kekudusan ilahi yang halal dan diusir dari tempat tinggalnya.
Orang-orang miskin yang bekerja keras di pinggir-pinggir jalan kota diburu seolah pencuri. Namun saat mereka gagal membeli obat bagi anak-istri yang sakit, tiada yang peduli. Dosa penilap miliaran rupiah uang rakyat tidak berarti sepanjang tidak menyimpang dari tafsir mayoritas. Negeri para dewa telah gagal melindungi warga minoritas dan mereka yang miskin.
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Kolom |
Permalink
Posted by lothek
June 27, 2008
Tebuireng.net-Wisma Laskar Hisbullah (LH) Bawah atau lebih dikenal dengan wisma salaf, kemarin (14/04) merayakan Hari Lahirnya yang ke 14.
Acara yang sebelumnya diramaikan dengan beberapa penampilan santri itu dihadiri oleh KH. Zubaidi Muslih, H. Agus Irfan Yusuf (Gus Irfan), KH. Agus Fahmi Amrullah (Gus Fahmi) dan dan beberapa Dewan Asatid serta santri salaf.
Hitungan 14 dimulai dari awal berdirinya wisma yang sebelumnya dipakai untuk Sekolah Persiapan (SP) ini. Salaf sendiri adalah salah satu program jurusan di MA Tebuireng yang secara khusus mendalami kita-kitab salaf.
Bukan hanya itu, Program yang konon dipelopori oleh (Alm) Gus Ishom ini juga mencanangkan hafalan Al-Fiyah Ibnu Malik. Selain itu, para santri yang mengikuti program salaf kerap sekali mewakili Pesantren Tebuireng untuk mengikuti bahtsul masa’il baik tingkat Jombang (FBMPP) maupun Jawa Timur (FMPP).
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Berita |
Permalink
Posted by lothek
June 27, 2008
Oleh: Amronee Ahmad
Jika roh ini merupakan syarat bagi adanya badanku,
maka darimana rohku ini diambil ?
dari mana rohku ini diciptakan ?
kemana pula aku diarahkan ?
aku hidup
diarahkan
atau
terserah aku ?
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Anak Kata-kata |
Permalink
Posted by lothek
June 27, 2008
Oleh: Amronee Ahmad,
Lebih dari setengah abad, Indonesia telah merdeka. Pengambilalihan kedaulatan oleh bangsa Indonesia dari penjajah, memberikan titik terang terhadap arah kehidupan bangsa Indonesia. Pada saat itu pulalah pendidikan mulai diarahkan untuk tujuan kepentingan bangsa, bukan lagi kepentingan penjajah. Segala macam praktek pendidikan merujuk pada tujuan pokok bangsa yakni penanaman jiwa patriotisme.
Pelaksanaan pendidikan memang tidak dapat terlepas dari kondisi sosio-politik yang ada. Perkembangan pendidikan merupakan hasil dialektika antara sosio-politik dengan pendidikan itu sendiri. Tidak semata-mata hanya untuk memberikan pengetahuan, intelektual, perkembangannya lebih kearah kepentingan bangsa. Pendidikan bukan hanya sebagai alat mencerdaskan bangsa, tetapi merupakan alat pencetak patriotisme rakyat terhadap bangsa. Mata pelajaran yang diberikan syarat dengan muatan patriotisme, nasionalisme serta pengokohan jati diri bangsa sebagai bangsa yang merdeka. Contohnya mata pelajaran Civic, yang diberikan mulai dari tingkat SLTP, yang berisikan tentang pengetahuan-pengetahuan kewarganegaraan, politik, sosial, serta kepribadian bangsa. Fenomena tersebut memberikan kesimpulan bahwa ideologi pendidikan sangat bergantung pada ideologi bangsa.
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Pendidikan |
Permalink
Posted by lothek
June 22, 2008
LAPINDO
Meluber ke jalan
Memotong kesempatan
Mendatangkan kemiskinan
Membawa ketidakpastian
Hasil tani hancur dilumat oleh lumpur
Hasil kebun diterjang oleh pasir berhaluan
Semua pergi begitu saja
Tak pernah ada kabar yang datang
Berujung keputusasaan
Rame-rame membawa bambu runcing
Mulut berbusa menampakkan Kemarahan
Berujung dengan pembunuhan
Lapindo, berhentilah, aku tak kuasa lagi
Setiap hari kami kehilangan
Kehilangan apa yang harus kami pegang
Pemerintah
Engkau dimana, pergi tak kasih kabar
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Sastra |
Permalink
Posted by lothek
June 22, 2008
Terlahirkan di dunia yang penuh sengketa,
bukan cita-cita siapa-siapa.
Tubuh berbalut darah, potongan tubuh yang terpisah
serta pikiran suul yakin secara massa,
Menjadi makanan keseharian ditengah ketidaksadaran
Apa maunya manusia, ketika agama tak lagi menjadi tempat istirahat yang
dapat menawarkan perdamaian, ketenangan serta kesejahteraan antar
sesama dibawah payung cinta kasih yang tak pernah padam, kecuali Syam
menjemputnya.
Menangis ketika nama-Mu tercantum disebilah pedang yang berlumuran
darah kemerah-merahan.
Menjerit ketika nama-Mu selalu didengungkan ketika melakukan pembajakan
Atas nama kebenaran yang dimiliki oleh orang lain
Tuhan, izinkan aku bertanya pada-Mu. Apa agama-MU?
Bila manusia sadar atas tindakan yang tak mencerminkan esensi dari setiap
ajaran agama yang ada di muka Bumi.
Sudah sangat lelah ketika hidup ini penuh dengan dendam dan
ketidakpastian.
Perpus: Joemardi Poetra, 31-07/07
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Sastra |
Permalink
Posted by lothek
June 20, 2008
BBM & BLT
Emak..kapan kau masak nasi
Emak..lauk apa yang hendak kau goreng
Pak…kenapa gallon di pojok rumah selalu kosong
Pak.kenapa?
Nak..kita tak lagi punya minyak
Minyak untuk menanak nasi
Minyak untuk menggoreng terong
Sudahlah nak
Kita istirahat makan
Emak..kenapa harus seperti ini
Bukankah nenek moyang dulu pernah berkata
Bumi pertiwi Indonesia ini tak akan habis jadi sumber makanan
Tak akan pernah habis
Nak..nenekmu itu benar
Namun nenekmu lupa melanjutkan ceritanya
Bahwa;
Sumber makanan yang tersedia di perut bumi ini
Hanya diperuntukan bagi mereka yang buas..
Untuk mereka yang rakus dan berhati besi baja
Kita tidak bisa apa-apa
Dan hanya medengar cerita kalau BBM kembali turun harganya
Bahkan kalau perlu gratis untuk rakyat seperti kita
Terus bagaimana dengan bantuan lansung tunai ( BLT)
Ya sudah….kita juga enggak tercatat sebagai orang miskin
Jadi kita istirahat sambil menungu sang ajal tiba
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Sastra |
Permalink
Posted by lothek
June 17, 2008
SEHARUSNYA KAU TIDAK SEKOLAH
Aku sekolah ingin menemui siapa aku
Aku sekolah ingin mencari jalan bagaimana mengisi kehidupan
Itu semua diamini oleh banyak orang
Tak terkecuali kedua orangtuaku
mereka telah membanting tulang Mengukir batu
menjadi perabot beharga mahal
“Untuk apa”, tanyaku. “Untuk biaya sekolah”, jawabnya.
Tapi, setelah berjalan dengan lipatan waktu
Itu semua tak tersediakan
Justru aku menjadi orang lain,
Orang lain yang tidak bermakna bagi kehidupan
Sungguh, aku tertipu, tipu muslihat yang kau kabarkan
Ternyata, sekolah tidak menyediakan apa-apa
kecuali kehidupan yang tidak hidup
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Sastra |
Permalink
Posted by lothek
June 17, 2008
Pancasila; sebuah revolusi berkehidupan yang belum selesai
Oleh: Joemardi Poetra
Di nusantara ini
Berbeda agama itu sudah lama ada
Berbeda kulit dari lahir adalah hal biasa
Bahkan berbeda etnis, ras adalah kabar gembira
Mereka tetap damai
Walaupun sedikit ada gesekan
Tapi itu reda dan lunglai dengan sendirinya
Karena payung kebersamaan
Yang sempat diperjuangkan oleh pemikir
Serta penggerak behati Tuhan
telah tertulis rapi dalam konsep bernegara dan berbangsa.
Pada awalnya,
Aqidah ke-Tuhanan
Adalah satu prinsip dasar
Dalam menentukan pilihan
Apakah kita akan bernegara dengan nama Negara agama
Atau beragama tanpa harus dinegarakan
Kiranya, sejarah sudah menjawab
Bangsa ini dilahir dari puluhan rumpun keyakinan
Laiknya hutan ketika dilihat dari awan
Yang bertujuan meraih masa depan
Yakni kesejahteraan di bawah payung
Berlambangkan burung garuda
Orang menyebutnya
Pancasila
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Sastra |
Permalink
Posted by lothek