BBM & BLT
Emak..kapan kau masak nasi
Emak..lauk apa yang hendak kau goreng
Pak…kenapa gallon di pojok rumah selalu kosong
Pak.kenapa?
Nak..kita tak lagi punya minyak
Minyak untuk menanak nasi
Minyak untuk menggoreng terong
Sudahlah nak
Kita istirahat makan
Emak..kenapa harus seperti ini
Bukankah nenek moyang dulu pernah berkata
Bumi pertiwi Indonesia ini tak akan habis jadi sumber makanan
Tak akan pernah habis
Nak..nenekmu itu benar
Namun nenekmu lupa melanjutkan ceritanya
Bahwa;
Sumber makanan yang tersedia di perut bumi ini
Hanya diperuntukan bagi mereka yang buas..
Untuk mereka yang rakus dan berhati besi baja
Kita tidak bisa apa-apa
Dan hanya medengar cerita kalau BBM kembali turun harganya
Bahkan kalau perlu gratis untuk rakyat seperti kita
Terus bagaimana dengan bantuan lansung tunai ( BLT)
Ya sudah….kita juga enggak tercatat sebagai orang miskin
Jadi kita istirahat sambil menungu sang ajal tiba
Emak, Bapak & Aku?
Butiran keringatmu terus mengalir
Membasahi pori-pori bumi
Dan terus mengalir menuju aliran telaga yang tak berujung
Bahkan menabrak pintu hati yang tak berkunci
Emak,
Bapak,
Kau pernah bercerita
Uang kiriman waktu itu
Dihasilkan dengan menghilangkan banyak hal
Sakit yang tiada henti
Tangisan sulit ditutupi
Tak sedikitpun kau kesal,
Marah, dan putus asa apalagi
Menyumpahi aku, sebagai anak yang tak tahu diri
Engkau memang titipan Tuhan
Yang sangat berarti
Tapi,
Aku,
Benarkah harta Tuhan yang sengaja
Di lempar ke perut bumi ini
Untuk membuatmu sedikit mampu
Membuka barisan gigi
Dan kucuran air mata bahagia membasahi pipi
Di hari tuamu[]
Monas berdarah
Kemarin,
Insiden monas terjadi
Wajah ketakutan
Dalam diri anak, ibu dan bapak
Lumuran darah merah memenuhi wajah
Benyolan di setiap kujur tubuh
Silang singkurat bambu melintas di setiap jasad anak manusia
Menghiasi pentas sinetron di setiap televisi
Ada apa engkau akhi..
Apa yang salah dengan keyakinanmu
Kekerasan,
Meniscayakan korban
Tapi, siapa korban dan aksi bringasmu
Saudaramu sendiri
Sungguh nai’f
Sudah selesaikan
Sebelum
Kekerasan menjadi corak hidupmu
Untuk kesekalian kalinya
Apa kata dunia?
Manusia Artifisial
Kau bilang isi itu bentuk
Bentuk itu isi
Konsistensi berpikirmu kini
Corak pandang hidupmu
Tak lagi waras
Ubahlah
Keran zaman terus berubah
Joemardi Poetra/19/05/08
.jpg)












