Kekacauan hukum, sistem bernegara dan berbangsa negeri ini bak kahyangan, tempat para dewa, yang sedang dilabrak Petruk, punakawan Arjuna.
Suap-menyuap jaksa yang mulai menyeret beberapa petinggi Kejagung seolah berkelindan dengan etos pencarian energi alternatif yang melibatkan ”teknologi jin” (meminjam istilah seorang ahli energi UGM) setelah rakyat harus menanggung beban kenaikan harga minyak dunia justru di negeri produsen minyak. Di sisi lain, pemerintah seolah tersandera para pihak yang dengan lantang memenuhi ambisi hegemoniknya atas tafsir tunggal kekudusan ilahi. Nilai-nilai terjungkir balik saat orang saleh yang patuh hukum dituduh berlaku jahat karena keyakinannya.
Derita warga negeri para dewa itu menjadi lengkap saat para pejabat menggunakan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri, penegak hukum menjual perkara, keputusan pengadilan tergantung berapa dibayar, dan keamanan dijamin sepanjang bisa membayar centeng. Pabrik penyedia bibit menjual hak bertani kepada petani dan broker surgawi menggunakan para dewa sebagai legitimasi kekerasan atas siapa saja yang berbeda. Mereka yang saleh secara sosial berbasis tafsir minoritas dituduh menodai kekudusan ilahi yang halal dan diusir dari tempat tinggalnya.
Orang-orang miskin yang bekerja keras di pinggir-pinggir jalan kota diburu seolah pencuri. Namun saat mereka gagal membeli obat bagi anak-istri yang sakit, tiada yang peduli. Dosa penilap miliaran rupiah uang rakyat tidak berarti sepanjang tidak menyimpang dari tafsir mayoritas. Negeri para dewa telah gagal melindungi warga minoritas dan mereka yang miskin.

Posted by lothek .jpg)












