INDONESIA KINI

June 22, 2008

LAPINDO

Meluber ke jalan
Memotong kesempatan
Mendatangkan kemiskinan
Membawa ketidakpastian
Hasil tani hancur dilumat oleh lumpur
Hasil kebun diterjang oleh pasir berhaluan
Semua pergi begitu saja
Tak pernah ada kabar yang datang
Berujung keputusasaan
Rame-rame membawa bambu runcing
Mulut berbusa menampakkan Kemarahan
Berujung dengan pembunuhan
Lapindo, berhentilah, aku tak kuasa lagi
Setiap hari kami kehilangan
Kehilangan apa yang harus kami pegang
Pemerintah
Engkau dimana, pergi tak kasih kabar

Read the rest of this entry »


TUHAN APA AGAMA-MU?

June 22, 2008

Terlahirkan di dunia yang penuh sengketa,
bukan cita-cita siapa-siapa.
Tubuh berbalut darah, potongan tubuh yang terpisah
serta pikiran suul yakin secara massa,
Menjadi makanan keseharian ditengah ketidaksadaran
Apa maunya manusia, ketika agama tak lagi menjadi tempat istirahat yang
dapat menawarkan perdamaian, ketenangan serta kesejahteraan antar
sesama dibawah payung cinta kasih yang tak pernah padam, kecuali Syam
menjemputnya.
Menangis ketika nama-Mu tercantum disebilah pedang yang berlumuran
darah kemerah-merahan.
Menjerit ketika nama-Mu selalu didengungkan ketika melakukan pembajakan
Atas nama kebenaran yang dimiliki oleh orang lain
Tuhan, izinkan aku bertanya pada-Mu. Apa agama-MU?
Bila manusia sadar atas tindakan yang tak mencerminkan esensi dari setiap
ajaran agama yang ada di muka Bumi.
Sudah sangat lelah ketika hidup ini penuh dengan dendam dan
ketidakpastian.

Perpus: Joemardi Poetra, 31-07/07

Read the rest of this entry »


Sekali Lagi Rakyat Jadi Korban

June 20, 2008

BBM & BLT
Emak..kapan kau masak nasi
Emak..lauk apa yang hendak kau goreng
Pak…kenapa gallon di pojok rumah selalu kosong
Pak.kenapa?
Nak..kita tak lagi punya minyak

Minyak untuk menanak nasi
Minyak untuk menggoreng terong
Sudahlah nak
Kita istirahat makan
Emak..kenapa harus seperti ini
Bukankah nenek moyang dulu pernah berkata
Bumi pertiwi Indonesia ini tak akan habis jadi sumber makanan
Tak akan pernah habis
Nak..nenekmu itu benar
Namun nenekmu lupa melanjutkan ceritanya
Bahwa;
Sumber makanan yang tersedia di perut bumi ini
Hanya diperuntukan bagi mereka yang buas..
Untuk mereka yang rakus dan berhati besi baja
Kita tidak bisa apa-apa
Dan hanya medengar cerita kalau BBM kembali turun harganya
Bahkan kalau perlu gratis untuk rakyat seperti kita
Terus bagaimana dengan bantuan lansung tunai ( BLT)
Ya sudah….kita juga enggak tercatat sebagai orang miskin
Jadi kita istirahat sambil menungu sang ajal tiba

Read the rest of this entry »


Wajah Buram Pendidikan

June 17, 2008

SEHARUSNYA KAU TIDAK SEKOLAH

Aku sekolah ingin menemui siapa aku

Aku sekolah ingin mencari jalan bagaimana mengisi kehidupan

Itu semua diamini oleh banyak orang

Tak terkecuali kedua orangtuaku

mereka telah membanting tulang Mengukir batu

menjadi perabot beharga mahal

“Untuk apa”, tanyaku. “Untuk biaya sekolah”, jawabnya.

Tapi, setelah berjalan dengan lipatan waktu

Itu semua tak tersediakan

Justru aku menjadi orang lain,

Orang lain yang tidak bermakna bagi kehidupan

Sungguh, aku tertipu, tipu muslihat yang kau kabarkan

Ternyata, sekolah tidak menyediakan apa-apa

kecuali kehidupan yang tidak hidup

Read the rest of this entry »


INDONESIA DALAM SETIAP BERITA

June 17, 2008

Pancasila; sebuah revolusi berkehidupan yang belum selesai

Oleh: Joemardi Poetra

Di nusantara ini
Berbeda agama itu sudah lama ada
Berbeda kulit dari lahir adalah hal biasa
Bahkan berbeda etnis, ras adalah kabar gembira
Mereka tetap damai
Walaupun sedikit ada gesekan
Tapi itu reda dan lunglai dengan sendirinya
Karena payung kebersamaan
Yang sempat diperjuangkan oleh pemikir
Serta penggerak behati Tuhan
telah tertulis rapi dalam konsep bernegara dan berbangsa.
Pada awalnya,
Aqidah ke-Tuhanan
Adalah satu prinsip dasar
Dalam menentukan pilihan
Apakah kita akan bernegara dengan nama Negara agama
Atau beragama tanpa harus dinegarakan
Kiranya, sejarah sudah menjawab
Bangsa ini dilahir dari puluhan rumpun keyakinan
Laiknya hutan ketika dilihat dari awan
Yang bertujuan meraih masa depan
Yakni kesejahteraan di bawah payung
Berlambangkan burung garuda
Orang menyebutnya
Pancasila

Read the rest of this entry »


DUNIA DALAM NEGERIKU

June 17, 2008

Oleh: Alfan

Negeriku punya dunianya sendiri

Dunia di dalam Negeri

Dunia dalam Negeri yang kaya sumber daya alam

Barang tambang

laut luas

Minyak bumi

Keragaman suku, budaya

Serta bangsa yang ramah tamah

Read the rest of this entry »


Sandiwara Politikus Indonesia

June 9, 2008

Sandiwara Pilkada

Turun kepasar
Bersalaman ke setiap penjual
Bertanya banyak hal
Untuk meraih dukungan
Membeli tanpa harus ada kembalian
Pertanda kontrak politik dipaksakan
Keihklasan di perjualbelikan
Popularitas begitu di dambakan
Turun ke sawah
Menggunakan pakaian kebesaran
Tanpa sedikitpun ada kekhawatiran
Bercocok tanam di depan tamu undangan
Di bumbui gemuruh tepuk tangan
Demi menandakan jiwa kerakyat-jelataan
Entah apa yang ada di akal, hati dan jiwa mereka
Mereka yang sedang bertarung merebut kursi kekuasaan
Ah begitu pintar mereka..
Mereka yang sedang menteaterkan pentas sandiwara

Read the rest of this entry »


Onthel

May 25, 2008

Oleh: Alfan

diapit aku ditengah kota

dikanan kiri makhluk bermesin

bersuara tak ramah

menyapa tapi memalingkan muka

“apa yang kau tunggangi itu?!, makhluk kuno nan lamban!”

begitu kira-kira sapanya, sambil pergi melemparkan asap kemana-mana

makhluk-makhluk bermesin itu melaju cepat

melesat, saling cepat

Read the rest of this entry »


Indonesia Dalam Rekaman Kata

May 3, 2008

Indonesia Yang Tenggelam

Mutiara Ibu Pertiwi Tentang Nusantara

Pergi tanpa peta yang jelas
Berlayar tanpa nahkoda handal
Kompas pun tiada memandu arah
Desakan penumpang tak terelakkan
Bocor kecil di setiap sudut dinding kapal
Perut laut memuntahkan isinya
berdatangan menyapu para penumpang
Ia bocor, ia oleng ia terombang ambing bagaikan kapas disapa ombak
Aku melihatnya
Ia pun tenggelam
Dan meninggalkan mata yang kebingungan
Begitu Pilu wahai Indonesiaku
Kapalmu selalu dihantui malapetaka

Joemardi P: 02-08-07

Buruk Sangka

Ketidakpercayaan melahirkan banyak peperangan
Peperangan melahirkan korban
Korban melahirkan tangisan
Tangisan melahirkan ketidakpastian
Usai sudah wahai buruk sangka
Jangan jangkiti budaya massa
Pupuki kepercayaan dengan pupuk kekritisan
Niscaya ketenangan, dan kesejahteraan menjadi senjata ampuh
Utuk meraih akar kesejarahan
Yakni: bendera kebersamaan.

Joemardi Poetra; Perpust: 01-08-07

Mahdayana

Begitu anggun ditengah uraian syair yang kau dendangkan
Burung-burungpun tertidur
diatas pohon tua yang hampir jatuh di kulit bumi
Ditengah para lelaki kau menari
Menari untuk menghibur
Menghibur untuk menatap masa depan
Di atas pentas kau di elu-elukan
Seperti sosok yang mendapat firman dari Tuhan
Kata-katamu dijadikan sabda
Seakan-akan Ke-elokanmu menjadi siraman spirit
Yang tak pernah usai dimakan usia
Kecuali syam bersenggama di atas tubuh seksimu
Mahdayana..!
Tak ada hari tanpa bernyanyi
Teruslah bernyanyi di tengah kehausan sastrawi
Yang hampir terhempaskan oleh peradaban
Teruslah bernyanyi dan sebarkan kata-kata mutiara
Teruslah bernyanyi dibawah payung kebersamaan
Mahdayana..!
ku sebut kamu Seorang pejuang
Pejuang yag selalu setia di garis massa

Joemardi P:perpust: 02-08-07

Izinkan Aku Menyebutmu Pecundang

Kedatangan tak pernah ditunggu
Kepulangan tak pernah diantar
Bumbu cinta antara kita makin usang
Usang dimakan oleh perilaku pecundang
Pecundang berwajah manusia berhati iblis
So..mulai saat ini panggilanmu pacundang
Pecundang yang ketinggalan zaman
Dimana aku kau tempatkan dibawahmu
D…….a………….s……….a………r
P…e…c…..u…d….a………………g

Joemardi P; Perpust: 01-08-07

Saatnya Berganti

Di tengah haluan angin segar yang menerpa kekosongan jiwa para pujangga
Tak pelak, namamu selalu terdengung merdu dimana-mana
lewat keserasian dua bibir tipis setiap kaum Adam
Hadir hanya untuk mengatakan
“Engkau memang wanita syiiiip”
Namun sejarah tetaplah sejarah
yang menghendaki pergeseran
Dan bibir pun tak kuasa mempertahankan getaran lama yang selalu mencuat bak lumpur Lapindo di porong Sidoarjo, selalu dan selalu memuncratkan air pertanda kesepian, kesendirian dan kerinduan yang tertunda
Toh.. pada akhirnya “ia” pun hanya mampu berucap, bukan saatmu lagi …

Joemardi P, 29/05/07

Komunitas Otentik

Di tengah hingar bingar peradaban yang miskin nilai
Akar kesejarahan pun semakin pudar
***
Kita punya kapal bernama Indonesia
Tapi ia kini tinggal menunggu ajal
Ia oleng, diterjang oleh laut pasang
Ia bocor air pun berdatangan
Ia tenggelam di himpit gemulai angin kasar
dan ia pun terdampar di bibir pantai
Hancur tinggalkan tangisan
Dan lahirkan ketidakpastian
***
…….Namun optimisme selalu datang
dikala pesimisme merajalela ditengah ke putus -asaan
Ia begitu siaga di garis massa
***
ku temukan prinsip hidup itu
sebagai puncak kesepakatan nasional
Dikala malam Jum’at datang
Datang dengan sejumlah komunitas cinta
Cinta akan nilai kesejarahan Bangsa
***
Ia bershalawat dengan kritik sosialnya
Ia berdendang seakan-akan memperingatkan hati yang lupa
Ia menepuk hadrah pertanda kapal harus di tambal
Di tambal dengan cinta dan kesadaran
Bahwa kita arang Indonesia
***
Itu ku temukan ditengah kesederhanann Divisi Shalawat
Mungkin merekalah ku sebut pahlawan
Rela dicerca di tengah ketertinggalan
***
Wahai saudaraku
Dosa dan dusta yang menjangkit massa harus sirna di tengah kita
Anti virusnya hanyalah komunitas otentik yang berani mengatakan inilah Indonesia,-
Inikah kita..!

JMP: Menara Kudus UIN, 02-08-07


JUJUR dALAM KETIDAKJUJURAN

May 3, 2008

Oleh: Joemardi Poetra*

Pagi itu tiba seperti biasa, memanggil tubuh kurusku lewat merdunya suara adzan subuh. Ditambah kokok ayam jantan menyapa pagi tiba. Mataku lansung menuju jam weker yang sengaja ku letakkan disamping sofa kala itu. Ternyata sudah pukul 08.00 pagi. Bergegas usapkan mata dan menuju meja yang tersedia makanan sisa. Apa mau di kata keseharianku hanya sebatang kara tanpa siapa-siapa kecuali di temani oleh tumpukan buku yang tak lagi kubaca. Kotor dan penuh dengan tempelan-tempelan koran menjadi potret surga “dunia”ku kala itu.
Pukul 09.00 sebentar tiba lewat gerak jarum panjang jam dinding, dan aku teringat nanti ada unjuk rasa besar-besaran di Malioboro. Sudah lama rasa hati ini meminta diriku untuk mencoba turun jalan bersama masyarakat dan berteriak sekeras mungkin untuk menolak apa saja yang membuat hidup orang banyak sengsara.
Read the rest of this entry »