Menyoal 34 Partai

August 16, 2008

Konstelasi politik Indonesia dewasa ini kian memanas, seiring proses kampanye partai politik sudah mulai dilaksanakan, tepat pada tanggal 12 Juli 2008, hingga 5 April 2009. Tidak berlebihan kalau tahun 2008 adalah awal mula pesta demokrasi bagi semua partai politik di negeri yang sedang sakit ini.  Disamping itu, tahun ini bakal menjadi kesempatan sebagian elite politik untuk mencalonkan dirinya menjadi orang nomor satu, tidak untuk nomor dua dan nomor urut berikutnya dalam mengatur roda kepemerintahan berikutnya.

Sejumlah slogan, seperti rakyat bersatulah, ekonomi kerakyatan, mencintai produk dalam negeri, menang kalah tak jadi soal, menjadi alasan nomor wahid, mengapa mereka maju dan ikut bertarung merebut kursi kekuasaan pada putaran pemilihan umum tahun 2009 mendatang. Akan tetapi, sampai saat ini, bursa calon presiden masih dihiasi oleh wajah-wajah politikus generasi lama. Wajah yang sebenarnya tidak lagi meyakinkan untuk membawa perubahan di negeri ini, tetapi begitu mengagumkan ketika melihat mereka tampil, laiknya seorang aktor film ternama, di depan layar televisi, papan iklan di sepanjang jalan kota-desa, bahkan kamar WC pria-wanita sekalipun, dimana senyum politik serta janji-janji manisnya begitu mudah diperjual-belikan.

Fenomena semacam ini menandakan bahwa perilaku politik manusia Indonesia memang sedang gila-gilanya, karena masyarakat dibuat bingung untuk membedakan mana isi dan mana bentuk yang akan diperjuangkan oleh mereka lewat puluhan kendaraan politik, padahal kehadiran puluhan partai saat ini terlihat samar. Sedangkan barang yang samar adalah barang yang tidak boleh untuk dipilih, apalagi dimiliki, sebelum keraguan benar-benar pupus.

Read the rest of this entry »


Untitled yang Egois

June 30, 2008

Oleh:Ronggolawe el-Kempedy

Murca sudah konsekuensi pemerintah Indonesia yang sok demokratis kepada pendidikan. Sepintas kalimat ini memang sungguh pedas di telan nurani, akan tetapi realita kekinian pendidikan Indonesia memaksa kita untuk menyantap kepedasan itu.

Kemurcaan itu semakin tampak jelas ketika para elite politik kita sibuk memasang kuda-kuda merebut kursi kekuasaan 2009. Atas nama hak angket, dengan matang mereka merencanakan kudeta tak terlihat terhadap rezim SBY-JK.

Sementara itu, di lain pihak, pendidikan yang kian menbumbung harga jualnya semakin menyesakkan dada rakyat jelata, kaum sudra reformasi. Betapa tidak, nominal yang sedemikian tinggi tak urung membuat mereka semakin enggan duduk di bangku pendidikan. Terlebih pagi para calon mahsiswa baru, sebagaimana yang kita lihat saat ini, untuk mendaftar ke sebuah perguruan tinggi negeri saja, mereka dituntut untuk mengeluarkan seluruh isi kantong mereka.

Read the rest of this entry »


“Petruk Dadi Ratu”

June 29, 2008

Oleh Abdul Munir Mulkhan

Kekacauan hukum, sistem bernegara dan berbangsa negeri ini bak kahyangan, tempat para dewa, yang sedang dilabrak Petruk, punakawan Arjuna.

Suap-menyuap jaksa yang mulai menyeret beberapa petinggi Kejagung seolah berkelindan dengan etos pencarian energi alternatif yang melibatkan ”teknologi jin” (meminjam istilah seorang ahli energi UGM) setelah rakyat harus menanggung beban kenaikan harga minyak dunia justru di negeri produsen minyak. Di sisi lain, pemerintah seolah tersandera para pihak yang dengan lantang memenuhi ambisi hegemoniknya atas tafsir tunggal kekudusan ilahi. Nilai-nilai terjungkir balik saat orang saleh yang patuh hukum dituduh berlaku jahat karena keyakinannya.

Derita warga negeri para dewa itu menjadi lengkap saat para pejabat menggunakan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri, penegak hukum menjual perkara, keputusan pengadilan tergantung berapa dibayar, dan keamanan dijamin sepanjang bisa membayar centeng. Pabrik penyedia bibit menjual hak bertani kepada petani dan broker surgawi menggunakan para dewa sebagai legitimasi kekerasan atas siapa saja yang berbeda. Mereka yang saleh secara sosial berbasis tafsir minoritas dituduh menodai kekudusan ilahi yang halal dan diusir dari tempat tinggalnya.

Orang-orang miskin yang bekerja keras di pinggir-pinggir jalan kota diburu seolah pencuri. Namun saat mereka gagal membeli obat bagi anak-istri yang sakit, tiada yang peduli. Dosa penilap miliaran rupiah uang rakyat tidak berarti sepanjang tidak menyimpang dari tafsir mayoritas. Negeri para dewa telah gagal melindungi warga minoritas dan mereka yang miskin.

Read the rest of this entry »


SALAF RAYAKAN HAFLAH

June 27, 2008

Tebuireng.net-Wisma Laskar Hisbullah (LH) Bawah atau lebih dikenal dengan wisma salaf, kemarin (14/04) merayakan Hari Lahirnya yang ke 14.

Acara yang sebelumnya diramaikan dengan beberapa penampilan santri itu dihadiri oleh KH. Zubaidi Muslih, H. Agus Irfan Yusuf (Gus Irfan), KH. Agus Fahmi Amrullah (Gus Fahmi) dan  dan beberapa Dewan Asatid serta santri salaf.

Hitungan 14 dimulai dari awal berdirinya wisma yang sebelumnya dipakai untuk Sekolah Persiapan (SP) ini. Salaf sendiri adalah salah satu program jurusan di MA Tebuireng yang secara khusus mendalami kita-kitab salaf.

Bukan hanya itu, Program yang konon dipelopori oleh (Alm) Gus Ishom ini juga mencanangkan hafalan Al-Fiyah Ibnu Malik. Selain itu, para santri yang mengikuti program salaf kerap sekali mewakili Pesantren Tebuireng untuk mengikuti bahtsul masa’il baik tingkat Jombang (FBMPP) maupun Jawa Timur (FMPP).

Read the rest of this entry »


The Real Power

June 27, 2008

Oleh: Amronee Ahmad

Jika roh ini merupakan syarat bagi adanya badanku,

maka darimana rohku ini diambil ?

dari mana rohku ini diciptakan ?

kemana pula aku diarahkan ?

aku hidup

diarahkan

atau

terserah aku ?

Read the rest of this entry »


PENDIDIKAN TAK BERARAH

June 27, 2008

Oleh: Amronee Ahmad,

Lebih dari setengah abad, Indonesia telah merdeka. Pengambilalihan kedaulatan oleh bangsa Indonesia dari penjajah, memberikan titik terang terhadap arah kehidupan bangsa Indonesia. Pada saat itu pulalah pendidikan mulai diarahkan untuk tujuan kepentingan bangsa, bukan lagi kepentingan penjajah. Segala macam praktek pendidikan merujuk pada tujuan pokok bangsa yakni penanaman jiwa patriotisme.

Pelaksanaan pendidikan memang tidak dapat terlepas dari kondisi sosio-politik yang ada. Perkembangan pendidikan merupakan hasil dialektika antara sosio-politik dengan pendidikan itu sendiri. Tidak semata-mata hanya untuk memberikan pengetahuan, intelektual, perkembangannya lebih kearah kepentingan bangsa. Pendidikan bukan hanya sebagai alat mencerdaskan bangsa, tetapi merupakan alat pencetak patriotisme rakyat terhadap bangsa. Mata pelajaran yang diberikan syarat dengan muatan patriotisme, nasionalisme serta pengokohan jati diri bangsa sebagai bangsa yang merdeka. Contohnya mata pelajaran Civic, yang diberikan mulai dari tingkat SLTP, yang berisikan tentang pengetahuan-pengetahuan kewarganegaraan, politik, sosial, serta kepribadian bangsa. Fenomena tersebut memberikan kesimpulan bahwa ideologi pendidikan sangat bergantung pada ideologi bangsa.

Read the rest of this entry »


INDONESIA KINI

June 22, 2008

LAPINDO

Meluber ke jalan
Memotong kesempatan
Mendatangkan kemiskinan
Membawa ketidakpastian
Hasil tani hancur dilumat oleh lumpur
Hasil kebun diterjang oleh pasir berhaluan
Semua pergi begitu saja
Tak pernah ada kabar yang datang
Berujung keputusasaan
Rame-rame membawa bambu runcing
Mulut berbusa menampakkan Kemarahan
Berujung dengan pembunuhan
Lapindo, berhentilah, aku tak kuasa lagi
Setiap hari kami kehilangan
Kehilangan apa yang harus kami pegang
Pemerintah
Engkau dimana, pergi tak kasih kabar

Read the rest of this entry »