INDONESIA : Negara kaya, tapi (di) Miskin (kan) rakyatnya!

Oleh : Eka Sumanja*

“Tanam tongkat dan batu jadi tanaman”

Mungkin itulah sepenggal lyrik yang dinyanyikan oleh koes plus diawal tahun ‘80an dan sekaligus menggambarkan betapa suburnya tanah ibu pertiwi ini. Mulai dari emas, timah, batu bara, nikel, tembaga, perak, dan barang tambang lainnya semua telah tersedia untuk dimanfaatkan guna kesejahteraan rakyat Indonesia .

Namun kini, sulitnya masyarakat untuk mendapatkan beras murah, minyak murah dan kebutuhan pokok lainnya semakin jauh dari harapan masyarakat. Dan ini adalah fakta hukum yang tidak terbantahkan. Fenomena kecil seperti konversi minyak tanah (mitan) ke gas yang cenderung dipaksakan oleh pemerintah adalah bukti bahwa untuk merubah suatu budaya yang sudah mengakar ditengah masyarakat tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Artinya, masyarakat yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya telah menggunakan minyak sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak, menggoreng dan lain sebagainya harus dipaksa oleh pemerintah untuk beralih ke gas elpiji dalam waktu beberapa bulan saja. Perlu diketahui bahwa dengan menggunakan gas elpiji, masyarakat merasa asing dan tidak biasa. Bahkan ada sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa : saya takut mas, takut meledak tabungnya.. Belum lagi harganya yang mahal.

• Imperialis Amerika Serikat (AS) : Pemimpin Ekonomi-Politik Internasional.

Imperialisme adalah tahapan tertinggi dari kapitalisme monopoli, karena proses akumulasi nilai lebih (survlus value) yang dihisap dari kerja keras buruh yang menjadikan mereka super profit.

Pasca kemenangannya pada Perang Dunia II (1939-1945) atas Blok Timur, AS semakin meneguhkan dirinya sebagai pemimpin Dunia. Perang yang menghabiskan anggaran dana sebesar 250 Miliar Dollar, membuat AS harus mengeksploitasi Negara-Negara yang kaya akan sumber daya alamnya ( Indonesia ). Dengan membuat PBB yang mengikat para angotanya lewat kebijakan-kebijakan yang menindas dan lembaga-lembaga jahat lainnya seperti IMF, WTO dan World Bank (WB) adalah bukti bahwa mereka sedang mengalami krisis hari ini.

Perang Irak yang pada hakekatnya adalah perampokan atas kekayaan alam di Irak, dan Irak adalah Negeri penghasil minyak nomor 2 (dua) terbesar di dunia setelah Arab Saudi. Seperti kita ketahui bahwa serangan AS dengan dalih kepemilikan pemerintah Irak atas senjata pemusnah massal yang sampai hari ini tidak terbukti dan keterkaitannya dengan jaringan teroris Al Qaeda, Osama Bin Laden. Sebelumnya , AS juga melakukan hal yang serupa terhadap Afganistan dengan alasan yang tidak jauh berbeda.

Perang Irak yang menghabiskan 3 Triliun Dollar AS (sekitar Rp 27.000 Triliun) ternyata menunjukan kegagalan. Rakyat Irak terus melakukan perlawanannya dalam mempertahankan diri dari Agresi AS , hingga lebih dari 10.000 tentara AS tewas selama menjalankan misi suci kaum Imperialis AS tersebut. Perang agresi Imperialis AS dan sekutunya telah menghancurkan penghidupan rakyat Irak. Ribuan orang tewas, jutaan lainnya mengungsi, kehidupan ekonomi hancur hingga kejahatan perang lainnya seperti tragedi penjara Abu Ghalib adalah bukti bahwa AS melakukan pelanggaran HAM berat.

• Orde Baru : Awal kehancuran Indonesia

Pasca penggulingan Soekarno oleh Soeharto lewat konspirasi yang dilakukan AD dan CIA dan disponsori langsung oleh IMF, telah terjadi disorientasi baik dari sistem Ekonomi, Politik, Sosial dan Kebudayaan.

Lahirnya UU No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing adalah anak haram hasil perselingkuhan antara rejim Orba dengan Imperialis AS. AS adalah Negara yang sangat berambisi untuk menguasai kekayaan alam Indonesia, terbukti pasca diberlakukannya UU tersebut AS langsung membangun Perusahaan pertambangan di Papua (Freeport) pada tahun 1968 yang bergerak dibidang pertambangan emas. Data Walhi menyebutkan 1 juta ton emas perharinya diselundupkan ke AS lewat pipa dasar laut. Disusul dengan Newmont di minahasa (1986) yang bergerak dibidang tembaga serta Exxon Mobile (1980) di Blok Cepu dan Caltex (1984) di Riau yang bergerak dibidang pertambangan Minyak dan gas Bumi (Migas) yang kesemuanya adalah perusahaan-perusahaan besar milik AS.

Ada 3 alasan mengapa mereka (AS) penting untuk menguasai Indonesia :

  1. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah;
  2. Upah Buruh yang rendah; dan
  3. Market Oriented.

• Disorientasi Ekonomi : Ekonomi Rakyat disulap menjadi Ekonomi Liberal

Dalam UUD 1945, khususnya pasal 33 tentang sistem ekonomi Indonesia dijelaskan bahwa sistem perekonomian Indonesia adalah ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada pasar dan atas persaingan yang sehat.

Faisal Basri ( Ekonom Liberal UI) yang diwawancarai oleh buletin siang RCTI ( 25 April 2008) menanggapi kenaikan harga minyak dunia yang saat ini mencapai 120 juta USD per barel mengatakan bahwa kenaikan harga minyak di dunia itu lebih rasional dan pemerintah harus mencabut subsidi BBM untuk menyelamatkan APBN 2008 dari pembengkakan, tandasnya.

Sekarang dapat kita lihat bahwa Indonesia secara ekonomi belumlah mandiri. Ketergantungan pada pasar Internasional, itulah yang terjadi dan menjadi momok yang menakutkan bagi sejarah perkembangan Indonesia kedepan. Kita tahu bahwa persaingan ditingkat Internasional tidaklah sehat seperti yang diasumsikan oleh pemerintah kita. Persaingan antara Negara-Negara besar dan maju (seperti USA, Eropa, Cina dan Jepang) dengan Negara-Negara berkembang (Indonesia dan beberapa Negara dunia ke III lainnya) hanya akan membuat Negara-Negara kaya akan semakin kaya, dan Negara-Negara berkembang akan tetap berkembang, bahkan bisa menjadi Negara Miskin!.

Pertarungan Ekonomi-Politik pada tingkat Internasional akan sangat mempengaruhi kondisi masyarakat Indonesia . Terlebih lagi pada sektor Pendidikan, yang akan membuat Pendidikan kita semakin mahal dikarenakan Pendidikan dijadikan komoditi yang sangat potensial untuk diperjualbelikan layaknya perusahaan yang orientasinya profit.

Indonesia adalah Negara Agraris yang jumlah penduduknya sekitar 240 juta jiwa dan mayoritas rakyatnya berada dibawah garis kemiskinan yang bermata pencaharian sebagai Buruh dan Tani. Sudah seharusnya pemerintah didalam mengeluarkan kebijakanya haruslah berpihak kepada unsur mayoritas bukan minoritas.#

*Eka Sumanja (kaka) : Mahasiswa UIN SuKa, aktif di Front Mahasiswa Nasional (FMN) dan Alumni Pon-pes Tebuireng, MAS Aliyah Tebuireng angkatan 2003.(www.freewebs.com/kakatbi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: