AGAMA DALAM IMAGINASIKU

Oleh: Joemardi poetra*

Agama yang katanya menyimpan segudang pesan yang Universal, yang ditujukan untuk sekalian ummat manusia, dan sekaligus dipercayai sebagai pijakan hidup (as way of life), ternyata kadang-kadang bisa menjadi pijakan/pedoman yang menakutkan sekaligus menggenaskan bagi ummat yang merindukan sebuah kehidupan yang sejahtera dan damai (Civil Society).
Kita selalu beralasan bahwa bukanlah agama yang menjadikan situasi seperti ini? Dan agama tidak pernah mengajarkan kepada ummatnya untuk melakukan hal yang terlarang. Jawaban yang amat normative (tertutupnya ruang kritik-otokritik) ini, selalu dilontarkan oleh kaum agamawan (Islam, Hindu, Bhuda, Kristen, Katolik, Protestan, Kong Khucu, dll). Mereka mempercayai bahwa “kitab suci” mereka sudah amat sangat otentik, sehingga menolak untuk kembali diinterprestasi ulang dengan melihat berbagai fenomena yang ada di sekeliling agama.
Kitab suci sebagai produk Tuhan yang sudah di “sakaralkan” oleh ummat masing-masing agama, mengakibatkan tertutupnya ruang untuk di lirik kembali akan keeksistensinya dalam menjawab segala persoalan kehidupan. Menurut kami pendidikan justru bisa menjadi salah satu instrument yang cukup refresentatif dalam mengembalikan validitas ma’na keagamaan (religiusitas) yang utuh, di tambah kondisi sosil masyarakat yang mejemuk (pluralisme).
Untuk dapat melakukan pemaknaan kembali guna dari pada sebuah kepercayaan, yaitu agama yang ada di Indonesia harus merumuskan kembali pandangan-pandanganya mengenai martabat manusia, kesejajaran manusia di depan undang-undang dan solidaritas sesama manusia (demokratis). Melalui upaya ini setiap agama dapat berintegrasi dengan keyakinan-keyakinan yang akan mendudukkan hubungan antar agama pada suatu tataran baru. Tataran baru itu adalah tahap pelayanan agama kepada warga masyarakat tanpa membedakan suku, ras, dan agama.
Dalam bentuk konkritnya seperti penanggulangan kemiskinan, penegakan hukum, dan kebebaan menyatakan penadapat. Apabila sebuah agama telah memasuki tatanan baru itu, ia berarti berfungsi melakukan pembebasan.
Radikalisasi keagamaan telah menghiasi wajah buram bangsa Indonesia yang konon katanya “Bhinika Tunggal Ika”, telah terkikis habis oleh sekian peristiwa yang menyeramkan, seprti, pengeboman, pertikaian antar etnis, atau kausu SARA dan lain-lain. Hal tersebut di sebabkan oleh pendidikan yang belum berani belum merambah pada konsep “Pendidikan Multikultural”, dan belum berani mengatakan bahwa “Tuhan” mereka (agama lain), juga “Tuhan” kita, cuman berbeda dalam cara ibadahnya, kemudian di tambah pendidikan kita yang masih menggunakan sistem konfensioanal, terlihat dari sisitem pengajaran mereka yang masih “Indoktrinasi”, apalagi ketika berbicara tentang “kepercayaan” yang menjustifikasikan bahwa agama “kami”lah yang paling benar (truth claim), sehingga ketika hidup di tengah bangsa yang amat Multireligius dan Multikultural, akan bisa bisa mendatangkan mara bahaya yang cukup mengerikan terhadap keberlansungan hidup dalam bermacam agama, dan hal tersebut juga akan menimbulkan sifat yang intoleran (tidak toleransi), terhadap kepercayaan orang yang berbeda dengan kita. Apalagi kita bangsa Indonesia yang memliki beragam kepercayaan dan kebudayaan yang beragam.
Di samping itu kecendrungan atau bahkan sudah menjadi watak misionaris dari setiap agama, yang menginginkan agama mereka di jadikan pijakan dalam mengarungi kehidupan ini (faormalisasi) oleh sekian banyak kepercayaan yang ada di bumi pertiwi ini (menonjolkann salah satu kepercayaan)).
Hal ini justru akan menjadikan ummat beragama sebagai kelompok masyarakat yang rentan dengan konflik dan di mungkinkan akan memiliki implikasi yang sangat mengkhawatirkan terhadap kehidupan beragama dan berbudaya, terbukti terjadi bermacam radikalisasi kegamaan oleh semua kepercayaan yang ada, dan sangat ironis sekali ummat manusia bertikai karena perbedaan “baju” yang di pakai, sementara mereka lupa, inti “memakai baju” adalah menjaga martabat manusia sebagai mahkluk berbudaya, semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang maha Besar.
Sekarang sudah bukan sa’atnya untuk saling membenarkan sebuah keyakinan yang sudah kita begitu lama kita yakini. kita tetap menjaga identitas kepercayaan kita, namun jangan jadikan itu sebagai alat penghancur agama itu sendiri dengan memisahkan dengan yang lain, sekarang yang harus kita pahami adalah “bagaimana kita hidup dalam beragam agama dan beragam kultur bisa hidup dalam kesejahteraan dan perdamaian. Bukankah itu yang di cita-citakan oleh semua agama? Truss kenapa kita selalu bertengkar, membunuh atas nama agama? Opo untunya Bung…!.
Kami rasa banyak hal yang harus kita benahi kembali dalam memahami sebuah keyakinan (Tajdi-dul Fahmi), supaya tidak menjadi bencana yang negative bagi agama itu sendiri dalam kehidupan ini. Dan kita tahu bahwa Agama bukankah untuk siapa-siapa?, itulah yang di ungkapkan oleh Gusdur, agama hanya untuk manusia itu sendiri. Tidak sedikit orang bisa menjadi pembunuh yang amat mengerikan dengan menggunakan asma-asma Tuhan, seakan-akan mereka telah menjadi “Tuhan”, inilah yang di lakukan oleh orang-orang yang sempit dalam memahami sebuah ajaran kepercayaan (ekslusiv), dan tidak memiliki rasa kepekaan yang lebih terhadap realitas (aspek social).
Agama (Islam) bukanlah soal ketuhanan, melainkan persoalan kemanusiaan, karena Tuhan tidak butuh semua hal, bahkan juga tidak butuh diri Tuhan itu sendiri. Berkali-kali Tuhan mengkritik setiap manusia yang menyembah Tuhan yang tak mempunyai faedah bagi manusia. Tidak ada gunanya agama tanpa keberadaan manusia, bahkan surga dan neraka tidak diadakanya jika tidak ada manusianya. Mengapa Tuhan “bersusah payah” berurusan dengan para Nabi, Rasul, dan Malaikat, adalah karena kepentingan manusia yang di ciptakan-Nya.
Kita lihat bagaimana begitu sadisnysa sejumlah peristiwa yang terjadi belakangan di Indonesia, seperti pengeboman, pembunuhan, pertikaian antara etnis, yang mengatasnamakan “Jihad”. Kami rasa semua manusia akan menolak hal yang semacam ini, rasanya ingin menangis ketika kita melihat sejuta manusia bergelimpang, bersimbuh, dan bermandikan darah ketika mereka menjadi korban akan kebiadaban oaring-oarang yang tidak memilki rasa kepekaan terhadap sesama makhluk sang-Pencipta, seakan-akan nyawa merupakan hal yang tidak ada harganya di mata mereka. Agama yang kita yakini memiliki ruh perdamaian dan selalu di iringi dengan kelembutan yang mempesona hilang di terpa begitu saja oleh derpaaan perbuatan mereka yang tidak punya rasa kemanusiaan yang tingi.
Tetapi dengan melihat peran agama-agama besar yang ada di bumi pertiwi ini, sudah tidak bisa lagi menegndalaikan arus permaslahan yang begitu deras dan kompleks atas nama ketuhanan, padahal agama menganjurkan kepada kita untuk memilki rasa kemanusiaan yang tinggi sehingga akan terwujud rasa ketuhanan yang patuh, karena Dialah yang sepantasnya buat segalanya.
Namun hanya segelintir orang yang berbicara tentang kemanusiaan, namun inilah yang harus kita jawab bersama sebagai makhluk yang bertuhan atau beragama, maka menurut Abdul Mnuir Mulkhan, bahwa inti kesalehan adalah kemanusiaan, jadi bukti penting dari tingkat kesalehan oarng tersebut, ialah bagaimana ia bisa berbaur dengan ragam kepercayaan dan kebudayaan, tanpa menilik akan atau bahkan membiarkan mereka dalam ketelantaran di sebabkan oleh berbeda paham, beda aliran, dan beda agama, beda negara dan bangsa. Untuk apa ada agama kalau tidak ada bukti dari apa yang telah kita kerjakan dari sekian ribu ritus yang telah kita lakukan? Surga di akhirat belum tentu, tetapi neraka di dunia sudah pasti.
Tidak menutup kemungkinan akan timbul agama “baru” yang benar-benar mengusung sprit keagamaan yang penuh dengan perdamaian, yang tidak mepermaslahalkan akan perbedaan, dan saling mengisi dalam sebuah kehidupan, agar menjadi hidup yang berarti dan bermanfa’at. Bagi mereka Tuhan Yang mereka yakini sebelumnya telah “mati”, sehingga meereka ingin mencari Tuhan “baru”.
Atau manusia justru mengalami trauma yang begitu panjang sehingga mengalami frustasi terhadap realita agama yang mereka yakini dari lahir sampai sa’at ini tidak mampu menbendung sekian permasalahan yang ada dalam kehidupan ini, sehingga sikap tersebut juga tidak akan menutup kemungkinan mereka tak mau beragama lagi (Atheisme).
Namun hal tersebut sebagai orang yang beragama kita tidak menghendaki hal yang semacam ini, karena tidak sesuai dengan sprit keagamaan (religiusitas) yang kita miliki. tapi yang terpentig adalah mananamkan (menginternalisasikan) kepada generasi-generasi kita yaitu “bagaimana hidup dengan bermacam-macam keagamaan dan beragam kebudayaan bisa menjadi lebih enjoy, tapa menilik akan perbedaaan dalam maslah keyakinan.
Kami rasa itulah agama yang sesungguhnya….!
Dan Tuhan tentu akan tersenyum……………..!
Karena hambanya (semua agama) mampu membuat suasana seakan-akan seperti “surga” , sebelum menuduki istana surga yang sesungguhnya, yang tentu di impi-impikan dan di tunggu oleh semua agama…
Dan Tuhan akan berucap: Well Come To My Faradize…!

* Alumnus Pon-Pes Tebuireng, Jombang-Jatim, angkatan 2004. Kini kuliah di UIN Yogyakarta. kunjungi: (www.joemardipoetra.wordpress.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: