Islam dan politik

Oleh : Dedi Syaputra*

Meskipun kata Islam sudah umum di benak kita sebagai
esensi sebuah ajaran, akan tetapi islam juga tidak bisa
dipisahkan dari kacah politik kekuasaan. Dari berbagai
referensi sejarah, meskipun sebuah sejarah perlu
mendatangkan sebuah keobjektifitas dalam sejarah itu
sendiri. persimpangan sejarah terkesan memiliki makna
politik satu sisi, karena kepentingan dari berbagai tokoh
sejarah dan ruang lingkup dari latar belakang juga sangat
mempengaruhi keobjektifitasnya.
Banyak yang dicetuskan oleh islam sebagai konsep-konsep
politik yang terus digali intelektual dari berbagai
pemikiran sebagiannya sudah diimplementasikan. berbagai
bentuk diinterprestasi oleh tokoh-tokoh politik islam
membuat sebuah prame work bagi landasan bepolitik yang
memiliki legalitas terhadap nilai- nilai keislaman. Inilah
yang saya katakan kelebihan politik islam, akan tetapi
kita tidak bisa menapikan historika politik islam masa
lampau merebut kekuasaan dengan jalan berbagai cara
seperti kasus masa Kholifah Hurosidin..
Islam boleh jadi merupakan agama yang paling kaya dengan
pemikiran politik. Antony Black dalam buku ini menjabarkan
bahwa pemikiran politik Islam terbentang mulai masalah
etika politik, filsafat politik, agama, hukum, hingga tata
negara. Black juga mengungkapkan bahwa pemikiran politik
Islam dipengaruhi oleh pemikiran politik Plato,
Aristoteles, dan Iran kuno.
Tapi keragaman khazanah pemikiran politik Islam itu bisa
dikatakan bermuara pada pemikiran tentang hubungan agama
dan negara. Bolehlah kita sebut pemikiran para pemikir
muslim yang menginginkan pemisahan Islam dan politik
sebagai pemikiran politik Islam dan pemikiran yang
menghendaki penyatuan Islam dan politik sebagai pemikiran
Islam politik. Ketika sejak Revolusi Prancis agama Kristen
relatif telah selesai membahas hubungan gereja dan
negara–bahwa gereja harus terpisah dari negara—Islam masih
berkutat pada persoalan yang satu ini, sejak zaman Nabi
hingga zaman kini.
Pada zamannya, Nabi membentuk sebuah komunitas, yang
diyakini bukan cuma komunitas agama, tapi juga komunitas
politik. Nabi berhasil menyatukan berbagai komunitas
kesukuan dalam Islam. Di Madinah, tempat hijrah Nabi,
beliau berhasil menyatukan komunitas sosial, yakni kaum
pemukim dan kaum pendatang. Lebih dari itu, di Madinah,
Nabi juga berhasil mengatur kehidupan kaum muslim ,
Nasrani, serta Yahudi dalam komunitas “Negara Madinah”
atau “masyarakat Madinah”.
Komunitas yang dibentuk Nabi di Madinah inilah yang
belakangan acap dirujuk oleh para pemikir muslim , baik
yang liberal maupun yang fundamentalis, sebagai masyarakat
Islam ideal. Pemikir liberal lebih suka menyebut komunitas
yang dibentuk Nabi di Madinah sebagai “masyarakat madani”,
sedangkan mereka yang fundamentalis lebih nyaman menyebut
“Negara Madinah”.
Di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyyah (661-850 Masehi),
pemikiran politik Islam didominasi oleh perdebatan tentang
sistem pemerintah atau lebih tepatnya hubungan khalifah
dan negara. Kedua dinasti Islam ini cenderung menganut
sistem pemerintah atau sistem politik yang tidak
memisahkan agama dan negara. Bahkan agama yang
direpresentasikan oleh khalifah cenderung mensubordinasi
negara atau kehidupan politik di kedua dinasti.
Tapi, sejak kira-kira 850 M, pemikiran dan praktek politik
yang dominan di dunia muslim adalah yang memisahkan agama
dan negara. Kekuasaan dibagi antara sultan yang mengatur
urusan militer serta menegakkan hukum dan ketertiban dan
ulama yang mengatur urusan sosial dan keluarga.
Sejak 1000-1200 M, para pemikir muslim, seperti Al-
Mawardi , Nizam al-Mulk, Al- Gazali , Ibn Rusyd , serta
Al-Razi, menawarkan pemikiran politik jalan tengah atau
pemikiran politik keseimbangan. Di masa-masa tersebut,
sultan dan ulama saling bekerja sama dan saling
tergantung.
Namun, pada 1220-1500 M, ide penyatuan agama dan politik
kembali mendominasi pemikiran para pemikir muslim .
Pemikir muslim yang paling menonjol pada masa itu, yang
menganjurkan pemerintahan berdasarkan syariat, adalah Ibn
Taimiyah. Black sendiri dalam buku ini menyebut masa itu
sebagai masa “syariat dan pedang”.
Puncak pemerintahan berdasarkan syariat berlangsung pada
masa kerajaan-kerajaan modern yang meliputi Dinasti
Utsmani , Dinasti Safawi , dan Dinasti Mogul. Tentu saja
Dinasti Utsmani , yang berpusat di Turki, menjadi dinasti
paling terkemuka. Dinasti ini disebut Khilafah Islamiyah .
Namun, dinasti ini mengalami kemunduran dan dibubarkan
pada 1924.
Kemunduran ini menandai mulai berpengaruhnya pemikiran
politik Barat. Para pemikir yang diidentifikasi sebagai
pemikir liberal bermunculan. Mereka antara lain Jamaluddin
al-Afghani dan Muhammad Abduh , yang menganut paham
pemisahan agama dan politik. Berpijak pada kemajuan Barat,
para pemikir muslim ini menawarkan pemikiran modernisme .
Black menyebut masa ini sebagai abad modernisme .
Tapi kemajuan Barat dewasa ini memunculkan reaksi di
kalangan pemikir Islam fundamentalis. Pemikir Islam
fundamentalis paling terkemuka adalah tokoh Ikhwanul
Muslim, Al- Maududi , serta Sayyid Qutb . Mereka
menginginkan kehidupan masyarakat muslim dewasa ini
mencontoh kehidupan di masa Nabi atau setidaknya masa
kejayaan dinasti-dinasti di masa awal Islam. Itu berarti
mereka menginginkan tidak adanya pemisahan agama dan
politik.
Jika kita perhatikan materi pemikiran Islam sejak masa
Nabi hingga masa kini seperti disajikan oleh Black dalam
buku ini, nyaris tiada yang baru di situ. Tapi,
bagaimanapun, pemetaan pemikiran Islam secara kronologis,
sebagaimana yang dilakukan oleh Black, sangat membantu
kita dalam memahami alur serta dinamika khazanah pemikiran
politik dunia Islam. Melalui buku ini pula, kita tahu
bahwa yang terjadi sesungguhnya adalah pertarungan antara
pemikiran politik Islam dan pemikiran Islam politik1.

1Antony Black “The History of Islamic Political Thought:
from the Prophet to the Present (Pemikiran Politik Islam:
Dari Masa Nabi hingga Masa Kini)” diterjemah, Abdullah Ali
dan Mariana Arietyawati, serambi, Jakarta 2006

* Alumni Tebuireng, dan sekarang Mahasiswa Islam Negeri (UIN)
Yogyakarta Fak.Syari’ah Jur. hukum dan politik islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: