JUJUR dALAM KETIDAKJUJURAN

Oleh: Joemardi Poetra*

Pagi itu tiba seperti biasa, memanggil tubuh kurusku lewat merdunya suara adzan subuh. Ditambah kokok ayam jantan menyapa pagi tiba. Mataku lansung menuju jam weker yang sengaja ku letakkan disamping sofa kala itu. Ternyata sudah pukul 08.00 pagi. Bergegas usapkan mata dan menuju meja yang tersedia makanan sisa. Apa mau di kata keseharianku hanya sebatang kara tanpa siapa-siapa kecuali di temani oleh tumpukan buku yang tak lagi kubaca. Kotor dan penuh dengan tempelan-tempelan koran menjadi potret surga “dunia”ku kala itu.
Pukul 09.00 sebentar tiba lewat gerak jarum panjang jam dinding, dan aku teringat nanti ada unjuk rasa besar-besaran di Malioboro. Sudah lama rasa hati ini meminta diriku untuk mencoba turun jalan bersama masyarakat dan berteriak sekeras mungkin untuk menolak apa saja yang membuat hidup orang banyak sengsara.
Bekumpul bersama mereka yang peduli dengan kehidupan orang banyak, membuatku terasa lega, ketimbang aku masuk kuliah yang hanya mengajarkanku untuk menjadi orang yang pandai teori dengan banyak baca buku tapi tak pandai untuk ingat apa yang dirasakan oleh mereka yang hidup di lampu merah, pedagang kaki lima, dan masyarakat arus bawah.
Mereka yang hidup menjadi pelacur secara terpaksa, mereka yang hidup dibawah golong jembatan, menjadi cerminan keseharian wajah Ibu pertiwi. sedangkan aku hanya diajarkan untuk menjadi orang yang ada di menara gading dan malas turun ke bumi untuk bersama berjuang melawan setiap penindasan.
Dengan naik mobil metromini akhirnya ku langkahkan kaki menuju ribuan massa yang telah lama menunggu. Terlihat disana-sini manusia menampakkan kesesalannya terhadap kebijakan yang tidak memihak pada rakyat arus bawah. ternyata tak di duga ribuan massa berteriak sambil menyuarakan kenaikan upah, karena bagi para pekerja selama ini tidak menddapat upayah yang wajar atau diatas upah minimum.
Aku pun terhanyut di tengah massa ribuan, aku sempat merenung bagaimana kalau kehidupanku seperti ini, apakah aku berharap pada mereka yang sekarang rajin belajar apapun teorinya, tapi nyatanya mereka tak sedikitpaun tahu bagaimana perasaan kami. Ketika salah satu korlapnya meminta “ saya minta satu anak bangsa yang mau meneriakkan atas nama perlawanan setiap penindasan selama ini”. aku tak berpikir lama, aku maju dengan pede. tetesan keringat, dan sosok tubuh kcilku berada di atas ribuan massa demonstrasan. Aku tak sedikitpun mengalatakan kata-kata keculi hanya meneteskan air mata, dengan melihat ribuan massa yang hanya menanti sebuah jawaban kepastian hidup. Aku sempat teringat bagaimana ibu meninggalkanku hanya kerana kecapean kerja sehari semalam namun hasilnya sama saja hanya untuk memenuhi kehidupan untuk sehari. Akhirnya demgan keberanian muka tebal, aku pun berorasi :
“ kawan-kawan, aku adalah anak dari seorang ibu yang meninggal oleh siksaan sistematis institusi dan kedaan bangsa ini. Aku adalah anak yang di”perkosa” oleh pejabat yang bengis itu, dan aku adalah orang yang nanti akan membalas mereka yang beruniat jahat pada ibuku”. Beberku.
Akau hanya satu di antara jutaan anak yang kehilangan kesempatan hidup, “tegakkan pirinsipmu untuk melawan dan mari kita melangkah bersama, tak di duga massa aksi pun tersipu dan lansung bergegas dengan berteriak “lawan setiap penindasan dan naikkan upah buruh kita, semua sudut pecah seketika dan selalu meneriakkan anti penindasan, sampai ahirnya aku turun jalan melanjutkan perjalanan demonstrasi yang masih jauh.
Aku pun pulang, sore telah menyapa dan azdan maghrib pun berteriak dengan merdu menyapa kaum Muslimin untuk melaksanakan perintahnya, aku berbegas mandi dan shalat setelah itu aku istirahat. Sambil baca buku aku menonton berita ternyata aku pun di liput oleh salah satu stasiun televisi nasional, tapi bagiku itu bukan suatu yang menggembira, namun itu juga membuatku berpikir panjang apa yang terjadi dengan diriku nantinya, aku tak punya apa-apa kecuali semangat dan sahabat.
***
Terhenyak seketika, membuat jantung terasa copot. aku baru ingat kalau kemarin ada mata kuliah yang selama ini ditakutin oleh semua temen kelas karena ke killerannya. Namun apalah daya nasi sudah jadi bubur, ahkrinya aku menyimpulkan, di awal tidurku malam itu untuk tetap akan masuk mata kuliah besoknya. Dalam hatiku selalu berkecamuk mempersoalkan bagaimana nantinya, padahal seingatnya selama ini ia selalu jadi tumpahan kemarahan dosennya karena termasuk anak-anak yang sulit paham.
Namun aku tidak peduli hal itu, setelah seharian berjalan ditengah jalan. membuat tubuh kurusku terhempas di kasur bekas kakak kelasku dan terlelap. “yang penting aku kuliah dan mencoba untuk serius, tapi kalau persoalan orang banyak (sosial) tidak ada tawar menawar, karena ini bukan persoalan hobi tapi nurani kemanusiaan yang menempatkan rasa solidaritas sebagai keimanan yang paling tinggi.”bisik hatiku
Setelah pagi menyapa dan kondisi fisik yang sehat, aku pun berangkat kuliah dengan ditemai sahabat setia, yakni tas sobek dan buku bekas.
Besok pagi tak terasa datang ketika kokok ayam jantan di kandang, aku bergegas mandi, shalat dan baca buku sambil menunggungu agak pagi. Setelah pukul menunjuk pukul 08.00 aku bergegas untuk berangkat kulaih. dengan mengendarai sepeda onta, hiup ini begitu nikmat tanpa persoalan, padahal persoalan makin hari makin membuntutiku.
Setiba diruang kelas, Aku masuk dan bekerja seperti biasa memperhatikan keterangan yang diberika oleh Dosen.
Namun di sela-sela proses pembelajaran “kenapa kemarin selasa enggak ikut, Tanyanya padaku “anu.., pak aku kemarin ikut aksi massa di jalan Malioboro”, jawabku. ‘emang apa untungnya kamu ikut demo, truss apakah kamu bisa menyelesaikan persoalan itu” Tanyanya padaku. Sementara temen yang enggak masuk tidak kena marah, padahal alsannya cuman ngantuk, “bukankah itu sama sekali alasan yang rasional sekaligus irrasional.”beberku dalam hati
Kejadian ini tentu akan melahirkan sekian kepentingan. Dan yang lebih iroonisnya adalah Dosen tak pernah menghargai kejujuran mahasiswanya, padahal beberapa kali dalam pengajaran kata-kata kejujuran selalu terlupakan dalam diri kami.
Bukankah ini yang namanya kejujuran dalam ketidajujuran.

* Alumnus Pon-Pes Tebuireng, Jombang-Jawa Timur, angkatan 2004.Kini kuliah di UIN Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: