Menajemen Diri dalam Masyarakat

Oleh: Agus Fitryono

Tanyakan dalam diri kita apakah benar konsep yang selama ini kita jalani itu benar dan relevan dalam kalangan masyarakat dan konsep sosial masyarakat kita pada saat ini???. Dari sudut pandang ideologi yang terjadi seharusnya kita bisa sedikit merununtut apakah yang dimaksud dengan ideologi Pancasila yang menjadi sandaran pada titik Bihineka Tunggal ika, mari kita kaji konsep dasar yang memiliki dasar dasar demokrasi Pancasila adalah kehidupan diri kita untuk kita hadapkan dengan ligkungan yang mana kita kaitkan dengan apa yang ada dalam kaitan kepercayaan kita masing-masing.
Banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan diri kita dimana kita tidak bisa menerima tenggang rasa sesama ummat yang tumbuh berkembang di antara kita dengan sedikit alasan yang berbeda ataupun aneh bahkan kita anggap itu suatu kesalahan yang fatal dalam konsep pandangan kita. Contoh yang akurasinya sangat tidak pernah kita sadari ialah bagaimana kita menyikapi perbedaan pendapat orang lain dengan pemahamannya dan mengkorelasikan terhadap pemahaman diri kita sendiri.
Sangat relevankah kita sebagai orang yang tubuh dan besar di negeri Pertiwi Indonesia yang selalu mengeklaim pendapat mayoritas yang paling benar dan sohih. Menyikapi perbedaan yang muncul, dengan asas demokrasi pancasila mari kita mencoba mengkoreksi, kita tahu bahwa pancasila terdiri dari 5 komponen yang mengandung arti sangat luas.
Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam pandangan ini kita selalu berkata agama kitalah yang paling benar adanya, dan ketika kita berbicara tentang pendapat-pendapat orang lain, seperti halnya Ahmadiah, kita sudah mengeklaim bahwa itu salah, memang benar kalau kita mengklaim itu salah, ketika sudut pandang itu kita sandarkan dengan pemahaman yang selama ini terdoktrin dalam jiwa kita. Artinya kita memandang Islam dari sudut pandang islam yang kita alami. Oleh sebab itu keta selalu mengeklaim bahwasannya kita yang paling benar adanya.
Ketika sedikit saja kita menilik beberapa orentasi Islam itu sendiri, apakah Islam itu agama yang kapitalis dalam artian yang selalu menindas Agama-agama yang muncul atas nama Islam dan dalam perspektif kita itu hal yang salah kaprah. Padahal kita tahu dalam surat al-Kafirun, ayat 6, “Lakum Diinnukum Waliyyadin” untukmu lah agama mu, dan untukku lah agama ku. Dan kita tahu bahwa dalam hadis Nabi Muhammad bahwasannya, Islam akan terpecah menjadi lebih dari 70 golongan yang berbeda pendapat.
Dari konsep yang ada benar ga’ sih kita menamakan islam yang kita anut selama ini, seperti apa-apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Padahal kita tahu Islam tumbuh di tengah-tengah kaum yang itu sama sekali tidak terdapat orang Islam itu sendiri. Dan agama Islam adalah agama yang sangat demokrasi sosial, budaya dan segi aspek apapun yang mana itu menimbulkan manfaat. Jadi sangat kapitalis sekali ketika kita mengatakan suatu agama itu salah.
Keadilan Bagi Seluruh Masyarakat Indonesia. Dalam kultural dimana kita berada konsep tersebut apakah pantas kita mengadili mereka dengan konsep pandangan ajaran kita?. Perlukah tindakan anarkhis itu terjadi ketika suatu perbedaan itu terjadi dan seolah-olah keadilan adalah hak preogratif Agama Islam secara Mutlak?. Kalau itu sifatnya persen (peroranga) maka itu bener tapi bukan berarti kita saling menyalahkan orang lain yang tidak sejalan dengan pandangan kita.
Toh ketika itu terjadi dimana konsep landasan kita yang berlandaskan asas Pancasila yang saya yakin 50% rakyat indonesia tidak hafal dengan PANCASILA dan bahkan tidak mengerti apa itu Pancasila yang dirumuskan oleh orang-orang yang memang mereka memahami apa itu arti Panca sila.
Sedikit mari kita coba saling memahami hak-hak mereka untuk meyakini pendapat dan kepercayaannya masing-masing ketika memang indonesia bukan lagi sebuah negara yang menganut mazhab Otoriter. Dimana semua agama itu sama dan tidak menutup kemungkinan yang salah selama ini salah itu benar adanya, dan yang selama ini benar hakikatnya akan menjadi salah, kenapa???. Karena kita tidak pernah mengerti makna secara mutlak arti kebenaran sesungguhnya. Dan kita saling mengadili mereka dengan cara pandang kita.
Persatuan Indonesia. Selama ini titik horizontal dan fertikal antara ummat yang ada dalam diri masyarakat indonesia pada umumnya memang sangat tidak lazim dan mengerikan, kita dulu sering diajari “Apa sih arti sebuah nama ketika itu menimbulkan kemudorotan ” , ternyata kita belum sadar pula konsep itu menjadi momok dalam diri kita, dan tidak kita sadari.
Pada dasarnya, Biheneka Tungal Ika dalam kajian kontek kenegaraan sangatlah dibutuhkan dalam mencapai cita-cita suatu negara untuk menuju kesuksesan seluruh masyarakat Indonesia. jadi, bisa kita analogikan sosial budaya bangsa kita selama ini membuat tombak yang berbeda-beda yang mana akan kita adu. Seperti halnya partai politik diamana saling menjatuhkan, walaupun tujuan dasarnya sama mensejahterakan masyarakat dan membangun Bangsa. Namun pada kenyataannya, dari beberapa mata tombak tersebut (partai) toh pada ahkirnya, saling mengadu untuk saling menjatuhkan.
Dimana konsep Persatuan Indonesia yang selama ini kita junjung tinggi dan kita sepakati itu menjadi bentuk konsep landasan negeri pertiwi ini???. Apakah kita telah lupa bahwa tanpa persatuan kita tidak akan pernah maju dan sukses untuk menuju bangsa yang makmur. Sering kita mendengar celotehan dari kekek buyut dan ibu bapak kita dalam konsep menabung “sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit”. Apa kita melupakan konsep yang selama ini anjurkan utuk anak-anak kita, apakah tidak berlaku dalam diri kita. Seandainya saja semua tombak-tombak yang ada dalam negeri ini saling bersatu bukan saling menjatuhkan.
Permusyawaratan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Dan Kebijaksanaan Dalam Perwakilan Permusyawaratan. Tidakah kita tahu asas-asas ini sangat tidak dapat kita pahami ketike kita berbicara mangenai konsep partai-partai yang dimana tumbuh dan berkembang biak, namun selama ini yang terjadi dalam kursi yang terbanyak dalam DPR atau pun dalam tampuk kepemerintahan terdiri dari bebrapa elemen partai yang berbeda.
Namun sadarkah kita, bertapa diantaranya tidak ada kata-kata atau titik kesepakatan yang akurasinya secara keseluruhan sepakat mengenai keputusan-keputusan yang ada dalam sidang???. Apakah itu mutu dan talenta yang timbul di dalam tubuh perwakilan elemen-elemen masyarakat kita.[]

*Penulis adalah alumnus Pon-Pes Tebuireng, angkatan 2004. Kini, kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. fakultas Syari’ah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: