PRAM, KARYA & NASIB RAKYAT

Judul Buku : Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir
(Esei dan Wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer)
Penerbit : Komunitas Bambu (KB), Jakarta
Edisi : Februari 2008
Tebal : x+176 hlm.: 11,5 x 17, 5 cm

Aku menulis tidak pernah khusus untuk diri sendiri, langsung atau tidak. Ada fa’al sosial didalamnya, makin dikembangkan fa’al sosial itu semakin baik.
(Pramoedya Ananta Toer)

Oleh: Joemardi Poetra*

Dia yang Terasing
Pram, itulah panggilan akrab seorang sastrawan garda depan Indonesia yang lahir pada tanggal 26 Februari 1925 di kota Blora Jawa Tengah. Hampir seumur hidupnya, laki-laki yang mengagumi karya sastra Jhon Steinbeck ini dihabiskan di balik jeruji besi.
Tak hanya dalam masa pemerintahan Soekarno dan rezim Orde Baru, saat pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan dari tahun 1947-1949. Kemudian pada tahun 1965 hingga 1979, dia kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.
Sekalipun mengalami kehilangan cukup berarti dari masa hidupnya yang penuh gejolak-termasuk sakit dan ancaman kematian, yang selalu membayangi jejak langkahnya di penjara, namun hal itu dianggap tantangan besar yang harus ditempuh demi menjemput perubahan dalam bernegara dan berbangsa. Sehingga tidak salah kiranya, ada anggapan bahwa penjara adalah universitas bagi orang-orang revolusioner.
Sebagaimana Revolusi Indonesia, ketika Belanda melancarkan praktek polisional pertama (baca: agresi militer), sederet penderitaan sebagai akibatnya adalah kausalitas yang penuh dengan guratan-guratan gelap. Bagaimana tidak, seperti dikisahkan Pramoedya dalam buku ‘Mereka Yang di Lumpuhkan’ sudah mewartakan ketidakjelasan di tengah situasi penjara sangat penuh dengan siksaan. Hal itu bisa dilihat dari kata-kata persembahan Pram dalam buku tersebut, sebagai pernyataan asa, dan sebagai himbauan kepada rakyat Indonesia.
Tidak berhenti di situ saja, Pramoedya dikenal sebagai manusia Indonesia yang diperlakukan tidak adil oleh bangsanya sendiri. Terbukti dari beberapa kali menerima undangan untuk menghadiri kegiatan international yang dilakukan oleh pihak luar negeri pun gagal, lantaran keberadaanya selalu diawasi oleh rezim diktator Soeharto.
Bahkan Kees Snoeck, salah satu penulis buku ini sebelum wawancara dengan Pramoedya pada tanggal 26 Juli tahun 1991, ia mendapat pesan dari seorang penyair dan ahli sejarah hukum Belanda, G.J. Resink (1911-1997), bahwa berhubungan dengan Pram adalah pekerjaan yang beresiko, karena ada spionase dari pemerintah (baca hal:97-98), jadi harus berhati-hati. Tidak berlebihan, kalau Chris GoGwilt, seorang Profesor bahasa Inggris dan perbandingan sastra di Fordham University, menganggap kehidupan Pram semasa hidupnya sebagai orang yang terasing di negerinya sendiri.
Disamping hak hidup yang terbatas, dalam buku terbitan komunitas bambu ini kita akan menjumpai ungkapan kekecewaan Pram yang tak pernah usai, bahkan sampai ajal menjemputnya tiga tahun silam (30/04/06), ketika mengenang puluhan naskah dan dokumentasi penting diberangus dan dilarang beredar oleh pemerintah. Lagi-lagi tanpa ada penjelasan dan proses pengadilan.
“Saya merasa sampai titik nadir kehinaan di Indonesia pada masa orde baru,” ungkap Pram pada Kees Snoeck. Bahkan pada tahun 1989 di Yogyakarta, dua mahasiswa, yang menjual secara diam-diam buku-buku pramoedya dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun (baca hal: 63).
Begitu seterusnya kehidupan Pram, tidak lain adalah lipatan kekecewaan yang begitu mencekam, sehingga dia memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa salah satu karakter orang Indonesia adalah penindas.
Namun dibalik semua itu, konsistensi hidup Pram dalam menyikapi berbagai rintangan telah mengantarnya pada tahta mulia di mata orang banyak, dan itu terbukti setelah Soeharto diturun paksa oleh masa rakyat dan bahasa reformasi menggejala dalam setiap diri manusia Indonesia, tepatnya tahun 1999, satu per satu karya-karya Pram diterbitkan kembali, termasuk ada yang terbit ulang.
Kini, karya dari sastrawan Indonesia itu bisa dinikmati dan dibaca dengan leluasa oleh masyarakat dunia. Bahkan antara tahun 1986-1988, buku jilid ketiga dari tetralogi-Buru, Jejak Langkah dalam waktu relativ singkat habis terjual sejumlah 10.000 eksemplar.
“Kalau pada masa pelarangan saja sudah ribuan buku terjual, apalagi saat ini, entah berapa karya-karya Pram terjual dan diterbit ulang, dan mungkin melebihi penjualan dari novel Ayat-Ayat Cinta, karya Habiburrahman el-Sirazy dan Trilogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata,” Imbuhku.

Karya & Nasib Rakyat
Dengan kehadiran buku yang ditulis oleh August Hans den Boef, sastrawan kelahiran Belanda lewat esei analitiknya terhadap karya-karya Pram semasa di sel secara luas serta edisi wawancara khusus oleh Kees Snoeck, mantan dosen bahasa, sastra dan sejarah Belanda di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), tentang kehidupan serta keterlibatan Pram dalam agenda revolusi nusantara, mulai dari masa kependudukan Belanda (1932), Jepang (1942) serta dua pemerintahan dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia, 0rde lama dan baru (1945-1998).
Itu semua dalam kerangka membuka analisa baru (Disamping telah banyak kajian kritis atas karya Pram oleh pengamat sastra lainnya) dalam menilai karya sastra Pramoedya semasa di sel, mulai dari Karya Perburuan (1949), Keluarga Berilya (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (1950), serta Tetralogi Buru, (Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa, (1983), Jejak Langkah, (1986), dan Rumah Kaca, (1989).
Dalam pengamatan Augus Hans, setiap hasil karya Pram, gaya khasnya selalu tersirat jelas yakni; kesadaran akan latar belakang sejarah negeri Indonesia yang makin dipertajam melalui studi dan kehidupan yang berubah-ubah. Dengan kata lain, ada konsistensi yang kuat mengenai visi yang disebarkannya, dan itu adalah bagian dari kegitan oposisi terhadap kekuasaan yang menindas (baca: Pramoedya; “Oposisi, Seks, & Amerika” dalam PROSA, Metafora, Jakarta, 2006).
Di samping itu, filsafat moral yang selalu ia kumandangkan dalam roman dan cerita semasa hidupnya, membuat Hans menyimpulkan bahwa Pram tetap diperhitungkan dalam kancah sastra dunia dikarenakan sampai akhir hayatnya, ia tetap dengan pendirian serta sikap yang selalu berkepala tegak, baik pada masa dekolonisasi Belanda, maupun pada masa pemerintahan Soekarno dan rezim Soeharto. Semakin ditiadakan, ia semakin ada. Ia justru eksis dalam ketiadaannya.
Tal ayal, penghargaan Ramon Magsaysay Award Foundation di Manila Filipina pada tahun 1995 pun singgah di pundaknya, lantaran dinilai dalam setiap kisah cerita yang diangkat oleh Pram, selalu mengembara pada tema-tema kemanusiaan dan keadilan sosial. Aspirasi tokoh-tokohnya berhadapan dengan kejahatan historis kekuasaan asing, feodalisme pribumi maupun akibat-akibat keadaan perang, kemiskinan, dan kekacauan. Kisah-kisahnya bergelimang dengan kesadaran pedih akan rapuhnya moral manusia ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan jahat yang dominan. (baca: Press Realeas-Manila,19 Juli 1995).
Buku berjudul “Saya Ingin Melihat Semua ini Berakhir”, ini diselesaikan pada tahun 1991, entah apa yang membuat buku ini harus menunggu 18 tahun untuk diterbitkan, tak ada penjelasan dari penerbit mengenai mengapa baru sekarang buku ini diterbitkan, padahal beberapa tahun setelah karya ini diselesaikan era reformasi telah menyediakan pintu-pintu publikasi secara luas.
Namun dibalik terlambatnya penerbitan, buku ini masih sangat relevan untuk dibaca oleh siapa saja, karena buku ini merupakan sebuah buku kesaksian Pram tentang penindasan dari pemerintah empat zaman, kondisi keluarga di masa kecil yang memperihatinkan, serta kedekatan karyanya dengan realitas sosial masyarakat. Jadi, tidak harus meniadakan karya-karya Pram lainnya.
Kini, satu satunya sastrawan Indonesia, yang selalu masuk nominasi peraih nobel sastra dunia telah tiada, tepat pada 30 April 2006 lalu, Pram pergi dengan tidak meninggalkan gelar pahlawan dari pemerintah, seperti gelar angkatan 45, 66, atau yang lainnya, tapi cukup mewariskan karya-karya sastra besar untuk selalu dikaji dan di kritisi secara berimbang, bukan terjatuh pada kekaguman yang berlebihan. Akhirnya, karya ini patut dibaca dan temukan seunggah harapan dari Pram; jadilah lebih berani. []

*Resensi ini telah diterbitkan di Newsletter SLILIT LPM ARENA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, edisi 28 mei 2008. kunjungi Web Blog kami: http://www.joemardipoetra.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: