GERMA; TIDAK CUKUP SEKEDAR HEROIS

Oleh: Joemardi Poetra*

Sejarah telah menorehkan tinta emas pada gerakan mahasiswa sebagai satu kekuatan politik dalam merebut kedaulatan Republik Indonesia dari tangan kolonialisme primitif, namun pantaskah dengan pendekatan heroisme semata, Germa melanjutkan tongkat perjuangannya.

Mahasiswa sebagai salah satu entitas sosial masyarakat yang strategis dalam mensemestakan gagasan (NADEMKRA) dan memberantas budaya bisu (Culture Silence) masyarakat Indonesia, yang selama ini beranak pinak oleh ideologi konservatifnya, nampaknya mulai menemukan kebuntuan, dimana harus mengamBil posisi dan menawarkan solusi yang bakal menghkhiri “sandiwara” dari semua isu-isu normativ selama ini yang belum dirasakan oleh seluruh element bangsa, terutama bagi mereka yang termarginalkan oleh konstruk sosial masyarakat apatis (baca: Ideologi liberalisme).

Dalam sejarahnya, gerakan mahasiswa adalah ruang exsperimentrasi dari sebuah penyatuan antara idealita dan realitas, sehingga menghendaki sebuah tindakan atau praktek yang menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat (intelktual organik), Namun saat ini, gerakan mahasiswa terkesan tertidur lelap dengan kemapanan dan logika kewajarannya, sehingga tidak menemui titik produktivnya sebagai insan yang bertanggungjawab atas latar sosial yang silang sengkurat selama ini.

Selayaknya, kita mengembalikan memori koleketiv, tentang bagaimana peran gerakan mahasiswa selama ini (mulai tahun 1912-1926-1930-1945-1966-1974-1978-1998), dalam membangun karakter generasi bangsa Indonesia, sebagai sebuah bangsa yang tidak mau dijajah dan dibodohi oleh sistem kapitalisme global. Tapi, karena ulah “penjilat” atau Orde Baru”, pada akhirnya, negara hanya melahirkan diskriminasi dalam berbagai bentuk, baik secara lansung maupun tidak lansung (direct violence and indirect violence). Hal inilah yang membuat sejarah penindasan di bumi pertiwi ini tidak pernah sepi.

Hal ini tentu sedikit membawa ruang ketidaksadaran kita untuk beranjak menuju ruang kesadaran kritis, yakni menuju kesadaran transformatif, sebagaimana yang dicita-citakan oleh Paulo Freire dalam hal pendidikan.

Pada tahun 1930-an, peran pendidikan yang didirikan oleh Jepang untuk Bumi Putera, sebagai bentuk kerjasama melawan Hindia belanda memliki signifikansi yang kuat dalam hal membangun spritualitas kerja dan mempercepat proses kemederkaan bangsa Indonesia. Dan hal itu terbukti mampu menjadi embrio awal untuk kelahiran nasionalisme perubahan. Tapi apakah pendidikan yang saat ini (pasca reformasi 1998) dikomandai oleh bangsa sendiri (desentralisasi) mampu menghidupkan “kobaran api” (integritas, loyalitas dan tanggung jawab) ditengah kondisi bangsa yang tertatih-tatih menuju satu perubahan fundamental?

Kita bisa mendengar sederetan nama besar dan organisasi bawah tanah yang mereka emban, justru lahir dari pendididikan di bawah sisitem penjajahan. Sebut saja, Sultan Shahrir, Amir Syarifuddin, Laksamana Maeda, dan masih banyak pejuang dibalik layar revolusi kemerdekaan untuk bersama-sama membangun satu model kekuatan, dari persoalan sosial menjadi persoalan potitik, yakni kemerdekaan dari penindasan penjajah.

Di samping itu, kelahiran nasionalisme di setiap kaum tua dan muda di awali dari sikap solider, yang pada akhirnya, mampu mengatasi persoalan etno-sentrisme yang selama proses penjajahan oleh kolonialisme Belanda maupun Jepang dijadikan alat legitimasi kelompok tertentu untuk mengikis habis sikap nasionalisme kebangsaan waku itu.

Sikap solider, sebagai kebutuhan mutlak bagi gerakan pemuda selama ini, tapi, apakah sikap tersebut masih ada atau mampu dijadikan sebagai etika sosial insan gerakan mahasiswa/pemuda saat ini. Silahkan jawab sendiri dengan melihat identitas jutaan generasi yang mulai pudar dari akar historisnya.

Menurut kami, ada beberapa hal yang menjadi obrolan politik ditingkatan gerakan mahasiswa saat ini, untuk selalu di semestakan sebagai bentuk penyadaran kolektiv atas bentuk penjajahan gaya baru saat ini, yakni; Pertama, menempatkan sejarah sebagai analisa (kontektualisasi) atas persoalan yang menimpa kondisi bangsa Indonesia saat ini. Kedua, memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai analisa sosial kemasyarakatan, di samping sebagai counter terhadap persoalan normativ yang selama ini belum menjadi satu model produksi masyarakat.

Ketiga, menjadikan ideologi sebagai senjata word view, atau alat dealektika, dan keyakinan akan perubahan di masa yang akan datang. Dan yang ke empat, membangun karakter di tingkatan kader-kader Gerakan mahasiswa/pemuda, agar tidak tercerabut dari akar kesejarahannnya, sehingga pada akhirnya nanti, membentuk satu kesadaran massa yang tidak hanya berkutat dalam kondisi “kemarahan yang senyap”, tapi benar-benar marah melihat Ibu Pertiwi yang masih mencengkam di balik jeruji besi kapatilisme global.

*Aktivis Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD) UIN SUKA Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: