Untitled yang Egois

Oleh:Ronggolawe el-Kempedy

Murca sudah konsekuensi pemerintah Indonesia yang sok demokratis kepada pendidikan. Sepintas kalimat ini memang sungguh pedas di telan nurani, akan tetapi realita kekinian pendidikan Indonesia memaksa kita untuk menyantap kepedasan itu.

Kemurcaan itu semakin tampak jelas ketika para elite politik kita sibuk memasang kuda-kuda merebut kursi kekuasaan 2009. Atas nama hak angket, dengan matang mereka merencanakan kudeta tak terlihat terhadap rezim SBY-JK.

Sementara itu, di lain pihak, pendidikan yang kian menbumbung harga jualnya semakin menyesakkan dada rakyat jelata, kaum sudra reformasi. Betapa tidak, nominal yang sedemikian tinggi tak urung membuat mereka semakin enggan duduk di bangku pendidikan. Terlebih pagi para calon mahsiswa baru, sebagaimana yang kita lihat saat ini, untuk mendaftar ke sebuah perguruan tinggi negeri saja, mereka dituntut untuk mengeluarkan seluruh isi kantong mereka.

Harga jual pendidkan yang tinggi—dalam tulisan ini pada ranah kampus—itu tidak hanya diiklankan oleh kampus-kampus swasta, melainkan juga sebagian besar kampus yang menyanjung predikat “state” ikut- ikutan memasarkan pendidikan sebagai barang komoditas. Jelas saja itu merupakan pengaruh globalisasi yang bersendikan pasar bebas. Jika pendidkan sudah di serahkan ke pasar, maka hanya akan ada satu logika yang muncul yang punya uang akan semakin pintar, sedangkan yang miskin, yang tidak punya uang hanya bisa meneteskan air liur dan akan semakin bodoh. Tentunya, lagi-lagi karena sindrom euforis, atau bahkan psikopatis pasar bebas, mereka akan semakin dibodohi dan ditindas oleh kaum berpunya.

Oleh semua sebab itulah, maka lahir pertanyaan yang seharusnya tidak ada dalam negara demokratis “Siapakah yang akan memperhatikan ketimpangan pendidikan Indonesia dan berusaha untuk merubahnya jika para dedengkot pemerintahan dan para wakil rakyatnya sudah bersikap apatis terhadap hal itu?” Kiranya berdasarkan fakta yang ada, pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya. Sedangkan pertanyaan paling krusial untuk dijawab bersama adalah apakah hanya karena pemilu 2009 yang akan datang para petinggi pemerintahan Indonesia bersikap apatis terhadap problematika pendidikan?

Antonio Gramsci dengan konsep hegemoninya telah memberikan starting point yang jelas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Berdasarkan konsepsinya, pemikiran Gramsci mengimplisitkan bahwa rezim yang tengah mempertahankan status quo dengan sengaja mengindoktrinasi ideologi pro pemerintah secara hegemonial. Alur yang paling tepat untuk mengindoktrinasi ideologi tersebut adalah pendidikan. Melalui pendidikan ideogenesasi halus dengan mudah menciptakan generasi muda baru pro pemerintah, atau dalam bahasa Gramsci disebut dengan “membuat blok historis”.

Proses penghegemonian ini tidak hanya melalui bahan ajarnya saja, melainkan lebih ekstrem lagi hingga ke sistem pendidikannya. Maksudnya, sebauh rezim sengaja membuat pendidikan hanya dienyam oleh golongan tertentu yang pro pemerintahan. Adapun gologan yang kontra dijauhkan dari pendidikan. Tujuannya adalah agar rakyat miskin yang tak berpunya tetap bisa dibodohi, tetap bisa dikeruk dan dihisap tenaganya tanpa ada protes atau kekritisan apapun.

Pada ralitas pendidikan Indonesia sendiri, golongan yang pro terhadap pemerintahan adalah kaum berpunya dan golongan yang kontra adalah rakyat miskin. Jadi, berdasarkan teori Gramsci status quo-lah yang menyebabkan wakil rakyat cenderung apatis terhadap problematika pendidikan Indonesia.

* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga. Semester II (2007-sekarang). E-Mail : sobiralazimy@gmail.com . Kini aktiv  di Forum Kepenulisan Warna UIN SUKA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: