Refleksia

3 Responses to Refleksia

  1. lothek says:

    ATAS NAMA TUHAN

    Oleh: Joemardi Poetra

    Pembunuhan, kekerasan serta diskriminasasi dalam bentuk apapun justru menjadi obyektivikasi dari sebuah pertarungan baru masyarakt modern yang tak pernah usai, yakni mempertentang kebenaran dalam beragam kepercayaan.
    Pemubunuhan, pertengkaran, merupakan ciri dari masyarakat primitif yang selau dicela kerena keterbelakangannya oleh manusia modern, tapi justru saat ini ulah tersebut kian menjadi tingkah laku baru, yang dipadu dengan kematangan konsep serta strategi jitu untuk melansungkan praktek pembusukan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini dijunjung tinggi oleh siapapun yang berlatarbelakang berbeda, tak terkecuali agama.
    Di tengah kondisi masyarakat merasa kebingungan untuk bertahan hidup, justru terjadi konflik sosial yang tak berujung. Hampir setiap hari lahir tindakan-tindakan yang tidak mengindahkan nilai atau falsafah sebuah bangsa yang memposisikan kemanusiaan sebagai titik tolak sebuah peradaban yang makmur dan tentram.
    Tak kuasa menahan tangis, melihat ratusan korban meninggal dunia tanpa dosa, anak kecil yang baru menghirup udara dunia harus rela kembali dengan tiket surganya, lantaran terkena percikan bom yang mencederai tubuh mungilnya, bahkan nenek tua yang mengadu nasib di tengah teriknya matahari ibu kota harus rela mati dengan bersimbah darah.
    Mata tak kuasa lagi meneteskan butiran-butiran kecil di kedua belah pipi, dan pandangan pun kosong tanpa makna. Dunia seakan telah berganti rupa, dari damai menuju malapetaka. Apalagi yag harus kita perbuat.
    Sedih rasanya, ketika mengingat para orang tua dulu selalu menceritakan hidup damai ditengah payung yang berbeda, namun satu oleh bendera.
    Akan tetapi, cerita itu semakin sirna di tengah tua usia peradaban, lantaran realitas sosial telah merobek bendera kesatuan itu oleh aski-aksi brutal yang tidak bertanggungjawab. Kota-desa sama-saja, selalu melahirkan tindak-kekerasan tanpa mengenal siapapun yang ada di depannya. Yang ada hanyalah para korban telah pergi bersama mereka ke surga, dan hanya satu yang tertinggal cerita untuk kita yakni derita dan nestapa oleh kekerasan yang tidak berperikemanusiaan.
    Sungguh miris rasanya hidup di tanah yang penuh duka, dan miskin cinta kasih antar sesama. Kolektivitas serta solidaritas yag menjadi akar kesejarahan bangsa pun telah terkikis habis di makan oleh usia senja.
    Aku pun berpikir, apa di sebalik ini semua. Agama kah?. “Apakah agama menjadi alat legitmisai setiap tindak kekerasan yang dilakukan oleh masing-masing kelompok saat ini,” gerutuku. “Ah tidak, yang saya tahu agama merupakan sebuah nilai atau etika sosial dari sistem sosial kemasyarakatan yang sebenarnya bisa memberi jaminan bagi manusia atas kehidupan yang damai dan sejahtera,” jawabku.
    Tapi kenapa agama di sisi lain memiliki wajah ganda. Kedamaian dan kekerasan. Dan saat ini sisi kekerasan menghiasi wajah agama apapun di tanah ibu pertiwi, Indonesia, tak terkecuali agama ISLAM.
    Maraknya klaim kebenaran oleh satu agama, seringkali menerobos pintu pembatas kebenaran yang dimiliki oleh agama tertentu.
    Padahal, Agama bagi penganut apapun di dunia ini selalu mengajarkan tentang kesejahteraan dan kedamaian, tanpa ada tindak kekerasan di dalamnya. Walaupun sebenarnya dalam naluri manusia memang sudah membawa kebaikan serta keburukan. Namun benarkah itu yang membuat hati kita menjadi hitam dan tidak adakah air suci yang bisa membersihkannya, selain kebersamaan ditengah perbedaan.
    Tidak salah kiranya diriku berujar, kenapa manusia berbondong-bondong membawa sebilah pedang, pistol bahkan teror atas pemikiran serta tindakan atas nama Tuhan/agama. Ironis memang, tapi inilah kenyataan bahwa beragama tanpa akal dan kepekaan sosial adalah fatal.[]

    *Alumnus Pon-pes Tebuireng, Jombang-Jatim.2004. (komplek.F.Afalah). kini study di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

  2. lothek says:

    Kebijaksanaan Kecil bagi Para Pecundang

    Oleh: Joemardi Poetra*

    Seunggah harapan terasa menyirami dahaga pak Pak Magfur, dikala matahari menyapa lewat sinar kemerahannya di sore itu. Laki-laki paruh baya itu, berjalan dengan tertegun sambil berkomat-kamit layaknya para penjual obat. Sehari penuh ia lewati dengan jutaan keringat, dan sehari itu pula ia selalu memberi subsidi pada kulit bumi, sehingga tempat yang ia duduki penuh dengan rerumputan muda. Ia selalu terseyum dan tak sedikitpun raut wajah kesalnya tampak mengemuka.
    Bagi masyarakat pesisir pantai, ia dikenal sebagai tukang jagung bakar. Di setiap malam dengan ditemani oleh laut pasang ia menelusuri tepi pantai parang taritis untuk mengaiz rizqi dengan berjualan jagung bakr. Tak jarang, cahaya merah yang berapi-rapi lewat sebuah lampu tua, sepasang kekasih yang sedang melakukan ’komunikasi khusus’ pun terlihat dan merasa jera untuk mengulanginya.
    Mengipas jagung seakan-akan tak ada rasa penat, capek bahkan uara kemalasan pun tak terlihat sedikitpun di balik keriput wajah tuanya.” hari-hariku seperti ini mas, jadi biasa saja”, jawabnya padaku yang kebetulan malam itu sedang menunggu jagung bakarnya.
    Sembari menunggu jagung yang sedang dibakar, dia bercerita banyak tentang kehidupan pesisir pantai. “Saya sudah 30 tahun bekerja sebagai pejual jagung bakar di tepi pantai ini, namun tak pernah aku tangisi, namun yang justru aku tangisi, dikala melihat ribuan manusia hanya menempatkan pantai sebatas tempat pelarian terakhir, ketika persoalan duniawi mereka di kota nan jauh disana tak kuasa dibendung”, bebernya padaku.
    “Pantai tak pernah dijenguk dengan suka cita, apalagi karena kecintaannya terhadap salah satu makhluk Tuhan yang ada di muka bumi ini”, lanjutnya.
    Tak hanya sosok pak magfur yang kutemui, di balik angin yang berdesus kencang layaknya AC yang bervolume tinggi, Siti Maimunah, yang tak kalah tua dibandingkan dengan laki-laki pertama menghampiri dan sejenak istirahat disampingku. “Dengan beberapa buah tikar yang siap ia carterkan pada ibu, bapak, keluarga bahkan dua remaja yang baru mengenal cinta sekalipun”, itulah aktivitasnya di malam hari untuk mencari nafkah.
    “lima-ribu mas…sampai pagi”, itulah ucapan yang selalu terlontar dari wajahnya yang tetap tegar walaupun hari tua masih harus bekerja di malam hari dan tidak pernah merayakan impian di hari muda bahwa hari tua adalah satu masa untuk menemani cucu yang sedang menginjak dewasa.
    Terhenyak, ketika satu kata yang terasa usang bagi mereka yang miskin hati namun kaya akan logika, kaya akan wacana, namun miskin akan bahasa. “Bahkan aku pun merasa bagian dari mereka yang tidak bisa memahami dunia pesisir pantai” gumamku waktu itu.
    Ternyata bagi ibu tadi, pantai itu layaknya manusia, punya rasa dan ingin membagi rasa itu pada sesamanya, salah satunya makhluk bernama manusia. Gemulai serta tarian anginnya yang begitu lembut mengitari penjuru pantai sambil mengikuti arah angin kemana ia mengajak dan pada akhirnya ia pun berlomba, bersama, berpelukan, untuk mencium bibir-bibir pantai.
    Bagi Magfur dan Siti Maimunah, dengan kekayaan hati, bahasa, itulah seunggah harapan ramah dari pantai untuk dimengerti oleh mereka yang selama ini hanya menempatkan pantai sebagai keranjang sampah yang tak pandai bercerita apa-apa ke inginannya terhadap satu makhluk bernama manusia.
    Aku pun berpikir, bukankah sang sunyi sudah mewujudkan pesan pantai lewat makhluk Tuhan, yakni kakek serta nenek tua yang selam ini selalu setia menemani perjalanan pantai, tak kenal siang maupun malam untuk menceritakan pada khalayak, tentang pantai yang merindukan keridhaan dari para pendatang untuk berpeluk, dan menari bersama gumulan ombak tanpa ada tendensi apapun.
    Sehingga, dengan kekayaan hati dan bahasa kita mampu memahami jeritan pahit pantai selama ini, julukan sebagai pecundang pun tak layak kita pegang.
    “Salamku dari Ombak”, kilah mereka berdua sembari menutup malam.[]
    *Tulisan ini dihasilkan lewat obrolan di tepi pantai Parang Taritis bersama pedagang jagung bakar serta sewa tikar.

    *Alumni Pon-Pes Tebuireng, Jombang-Jatim. Angkatan 2004. kini kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (www.joemardipoetra.wordpress.com)

  3. lothek says:

    DERITA PEMRED DI MEJA REDAKSI

    Oleh: Joemardi poetra

    “ Piye, iki bung, Resistensia kok belum terbit-terbit?,” tanya Ahmad selaku Pimpinan Umum waktu itu. Tak ada jawaban tersirat di kepalaku kecuali mengajak dia berbicara topik lain. Namun karena ketegasannya membuatku menjawab seadanya. “Anu bung.., masalahnya sekarang, berita yang sudah ada di meja redaksi belum diedit dan masih mentah banget,” jawabku.
    “Ya..itu kan kerjaanmu, emang apa kerjaanmu sekarang”, kilahnya sambil memimpin rapat. Hari itu memang aku melihat wajahnya tampak begitu serius, padahal se serius apapun selama ini, ia masih membungkusnya lewat senyum khasnya yang kadang kala membuat orang tertegun dan mengatakan “Asu…! Ha..ha… Terlepas dari itu semua, aku menyambut baik apa yang ia maskusd, karena ketegasan memang diperlukan bagi seorang pemimpin.
    Di meja Redaksi hadir semua Wartawan Senior Koran harian Resisitensia, untuk merapatkan agenda besar tentang Majalah Mingguan JMP Post ke depan. Semua persoalan dibahas disana, tapi ketika menyinggung persoalan “Resistensia”, sebagai Koran hariannya JMP POST, semua yang hadir lansung diam dan tak bereaksi sedikitpun, kecuali Ahmad yang pada waktu itu memimpin rapat, sehingga membuatku gundah kulana. “Apa yang harusku ceritakan,”? gumamku dalam hati.
    Perdebatan pun belum berakhir, bahkan tambah panas ketika tak sedikitpun ada jawaban dariku sebagai pemimpin redakasi baru di Resistensia. “kalau memang seperti ini adanya, lebih baik bubar aja, percuma punya kader kok menengan (pendiam/pasif),” kata Aziz selaku calon Sekretaris Umum JMP Post.
    Akhirnya dengan kecerdikan Ahmad, selaku pemimpin rapat suasana menjadi dingin kembali, sehingga proses rapat dapat berjalan kembali sesuai dengan rencana awal.
    Ketika proses rapat kembali seperti biasa, hatikku berkecamuk antara harapan dan derita, tapi untung alam sadarku mampu memenangi pertarungan dengan alam bawah sadarku (alam fantastis ), yang selalu menghendaki daku untuk keluar dari dunia tersebut, sehingga hatiku sepakat, aku harus menunjukkan bahwa aku layak menjadi Seorang Pemred. Dan tiga hari setelahnya, Resisitensia pun terbit.

    *Alumni Pon-Pes Tebuireng, kini kuliah di UIN Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: